Trump Mencak-mencak Saat Bertemu Nato Karena Tak Bantu As Lawan Iran

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencak-mencak kepada Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan mengulang ancamannya mengenai Greenland setelah pertemuan tertutup dengan Sekretaris Jenderal, Mark Rutte.

Kemarahan Trump terhadap sekutu NATO nan tidak mendukung perang Iran menimbulkan kekhawatiran AS bakal meninggalkan aliansi nyaris delapan dekade. Namun, dalam pernyataan pertama setelah pertemuan, Trump hanya menegaskan kembali rasa frustrasinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"NATO tidak ada saat kami memerlukan mereka, dan mereka tidak bakal ada jika kami memerlukan mereka lagi," tulis Trump di Truth Social, dikutip AFP.

"Ingat Greenland, itu pulau besar nan jelek pengelolaannya dan penuh es," tambah dia.

Sebelum melancarkan perang terhadap Iran, ancaman Trump untuk merebut Greenland dari sekutu NATO, Denmark, menjadi rumor krusial nan mengganggu aliansi.

Pertemuan ini berjalan sehari setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata rentan selama dua pekan.

Trump menuding NATO sebagai "macan kertas" lantaran menolak memimpin upaya membuka Selat Hormuz dan membatasi penggunaan pangkalan AS di wilayah mereka.

Ia juga mengecam beberapa pemimpin secara pribadi, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan mengejek kapal induk Inggris sebagai "mainan".

Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan Trump mempertimbangkan untuk menghukum beberapa personil NATO nan dianggap tidak membantu selama bentrok dengan memindahkan pasukan AS dari negara mereka.

Rencana ini tetap jauh dari ancaman Trump sebelumnya untuk menarik AS sepenuhnya dari NATO, nan memerlukan persetujuan Kongres.

Dalam pertemuan tertutup di West Wing, Rutte menyatakan bahwa obrolan tersebut melangkah lancar.

"Itu obrolan nan sangat terbuka dan jujur," ujar Rutte kepada CNN dalam wawancara televisi.

Sebelum kunjungan ke Gedung Putih, Rutte juga berjumpa dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas perang Rusia-Ukraina.

"Kedua pemimpin membahas Operasi Epic Fury, upaya nan dipimpin AS untuk mencapai penyelesaian negosiasi dalam perang Rusia-Ukraina, serta peningkatan koordinasi dan pembagian beban dengan sekutu NATO," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Tommy Pigott.

Sejak Trump kembali berkuasa, NATO terus dilanda krisis, termasuk ancaman terhadap Greenland, pengurangan support terhadap Ukraina, dan ancaman untuk tidak melindungi sekutu.

Rusia dan China mengawasi situasi ini dengan seksama, sementara Rutte berkedudukan memenangkan sikap AS terhadap Iran.

(rnp/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional