Terancam Didepak Msci, Dssa-bren Anjlok

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), berencana mengeluarkan saham Indonesia nan masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC) alias kepemilikan terkonsentrasi tinggi.

Melalui kebijakan ini, setidaknya terdapat dua saham RI nan berkesempatan dicoret dari MSCI lantaran masuk dalam kategori HSC. Kedua saham tersebut adalah emiten Grup Sinar Mas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan milik konglomerat Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).

Menyusul pengumuman tersebut, kedua saham ini diketahui melemah tajam pada perdagangan Selasa (21/4) kemarin. DSSA melemah 14,98% ke level Rp 2.780 per lembar, sedangkan BREN melemah 9,47% ke nilai Rp 5.975 per lembar saham.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keduanya juga mencatat net sell sepanjang perdagangan kemarin. Investor asing di DSSA tercatat menarik uangnya sebesar Rp 64,07 miliar, sedangkan BREN mencatat net foreign sell sebesar Rp 52,14 miliar.

Kemudian pada perdagangan hari ini, Rabu (22/4), keduanya juga kompak melanjutkan koreksinya. DSSA di awal perdagangan saat ini terkoreksi 7,55% ke level Rp 2.570 per lembar, sedangkan BREN melemah 6,69% ke nilai Rp 5.575 per lembar saham.

Diketahui berasas pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal April, DSSA dan BREN masuk dalam kategori HSC, di mana kepemilikan saham terkonsentrasi alias dimiliki oleh segelintir pihak saja. Adapun rinciannya, BREN mempunyai struktur kepemilikan terkonsentrasi sebesar 97,31% dari total saham dalam corak warkat dan tanpa warkat.

Sementara DSSA, tercatat mempunyai struktur kepemilikan nan dikuasai segelintir pihak sebesar 95,76% dari total saham dalam corak warkat dan tanpa warkat. Kedua saham ini diketahui tercatat sebagai penunggu indeks MSCI berasas hasil rebalancing tahun lalu.

"Kategori HSC memang menjadi cermatan dari MSCI, dan dikatakan pada pengumuman pagi ini tadi, bahwa emiten-emiten tersebut bakal dikeluarkan dari konstituen. Hal tersebut berarti, diperkirakan bakal ada tekanan jual bagi emiten-emiten nan masuk list HSC dalam konstituen MSCI ke depannya," ungkap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada detikcom, Selasa (22/4/2026).

Adapun dalam pengumuman terbarunya kemarin, MSCI mempertahankan pembekuan rebalancing Mei 2026 dan mengeluarkan saham-saham RI nan masuk kategori HSC dari indeksnya. Saat ini, MSCI juga tetap mengkaji akibat sejumlah reformasi pasar modal terhadap aksesibilitas investasi di RI.

Selain itu, MSCI juga bakal menggunakan info keterbukaan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan perkiraan free float. MSCI juga tidak bakal memasukkan info dari sumber dan keterbukaan baru hingga kajiannya selesai.

"Pendekatan ini dilakukan untuk membatasi perputaran indeks dan akibat investabilitas, sekaligus memberi waktu untuk pertimbangan lebih lanjut atas reformasi nan baru diumumkan," tulis pengumuman MSCI, dikutip Selasa (21/4/2026).

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai kebijakan MSCI mengenai saham HSC merupakan langkah tegas untuk meningkatkan kualitas indeks. Menurutnya, MSCI mau saham-saham dalam indeksnya sehat dari sisi struktur kepemilikannya.

"Ini langkah nan cukup tegas untuk meningkatkan kualitas indeks. MSCI mau memastikan saham nan masuk indeks betul-betul berkualitas, bukan hanya besar secara market cap tapi juga sehat dari sisi komposisi kepemilikan," terang Reydi kepada detikcom, Selasa (22/4/2026).

(acd/acd)

Sumber finance