CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 08:15 WIB
Ilustrasi. Studi temukan minuman nan berisiko sebabkan kanker hati. (iStock/Moyo Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --
Minuman tingkatkan akibat kanker hati menjadi temuan krusial dari sebuah studi besar nan melibatkan lebih dari 1,5 juta orang dewasa. Penelitian tersebut menemukan bahwa konsumsi minuman manis secara rutin berangkaian dengan peningkatan akibat dua jenis utama kanker hati.
Temuan ini menambah daftar panjang akibat kesehatan nan dikaitkan dengan minuman berpemanis gula, seperti soda, minuman energi, teh bungkusan manis, hingga beragam minuman siap saji lainnya.
Penelitian nan dipimpin oleh Cody Watling dan tim dari National Cancer Institute, Amerika Serikat, menganalisis info dari 11 studi kohort jangka panjang. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open pada 10 Juni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Medpage Today, para peneliti mau mengetahui apakah konsumsi minuman berpemanis gula (sugar-sweetened beverages/SSB) maupun minuman berpemanis buatan berasosiasi dengan akibat kanker hati.
Untuk itu, mereka menelusuri info pola makan dari 1.518.411 orang dewasa dengan usia rata-rata 57,8 tahun. Para peserta mengisi kuesioner gelombang makanan dan minuman, kemudian dipantau melalui registri kanker serta survei kesehatan selama nyaris 18 tahun.
Selama masa pemantauan, peneliti menemukan 2.811 kasus kanker hati. Di antaranya terdiri dari 1.699 kasus karsinoma hepatoseluler (hepatocellular carcinoma/HCC) dan 444 kasus kolangiokarsinoma intrahepatik (intrahepatic cholangiocarcinoma/ICC).
Hasil kajian menunjukkan bahwa setiap peningkatan konsumsi satu minuman manis per hari dikaitkan dengan kenaikan akibat HCC sebesar 10 persen dan ICC sebesar 15 persen.
Menariknya, hubungan tersebut tetap terlihat meski peneliti telah memperhitungkan aspek lain nan dapat memengaruhi hasil, seperti obesitas dan diabetes.
Sebaliknya, konsumsi minuman berpemanis buatan tidak ditemukan berasosiasi dengan peningkatan akibat kanker hati secara keseluruhan maupun kedua subtipe kanker hati tersebut.
Para peneliti menyimpulkan bahwa masyarakat kemungkinan dapat memperoleh faedah kesehatan dengan mengurangi konsumsi minuman berpemanis gula.
Mengapa minuman manis bisa berbahaya?
Meski penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para mahir menilai ada sejumlah sistem biologis nan masuk logika untuk menjelaskan kaitan tersebut.
Dalam ulasan nan menyertai studi, master Daniel Clayton-Chubb dan Andrew T. Chan dari Massachusetts General Hospital serta Harvard Medical School menjelaskan bahwa konsumsi minuman manis dalam jumlah tinggi telah lama dikaitkan dengan beragam gangguan metabolik.
Kandungan gula, terutama fruktosa bebas, dapat memicu peningkatan pembentukan lemak di hati, perubahan hormon nan mengatur metabolisme, gangguan mikrobioma usus, peningkatan lemak visceral, hingga resistensi insulin.
Kondisi-kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan perlemakan hati dan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kanker hati.
"Secara mekanistik, perubahan-perubahan ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap kanker hati," tulis para mahir dalam komentarnya.
Temuan terbaru ini memperkuat hasil sejumlah penelitian sebelumnya.
Salah satu studi nan melibatkan nyaris 100 ribu wanita pascamenopause menemukan bahwa mereka nan mengonsumsi setidaknya satu minuman manis setiap hari mempunyai akibat kanker hati nan lebih tinggi dibandingkan mereka nan jarang mengonsumsinya.
Penelitian lain juga mengaitkan konsumsi minuman berpemanis gula dengan peningkatan akibat kanker mulut dan kanker kolorektal nan muncul pada usia lebih muda, khususnya pada perempuan.
Sementara itu, minuman berpemanis buatan tidak menunjukkan hubungan nan signifikan dengan peningkatan akibat kanker hati dalam beragam penelitian nan dianalisis.
Meski hasilnya cukup kuat lantaran melibatkan lebih dari 1,5 juta peserta, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini berkarakter observasional. Artinya, penelitian tidak dapat memastikan bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker hati.
Selain itu, melansir Medical Xpress, sebagian besar studi hanya mengukur konsumsi minuman pada satu titik waktu sehingga pola konsumsi peserta mungkin berubah selama masa pemantauan.
Peneliti juga tidak dapat menyesuaikan kajian berasas kondisi penyakit hati nan sudah dimiliki peserta sebelumnya, seperti sirosis alias penyakit hati berlemak.
Karena itu, faktor-faktor lain nan tidak terukur tetap mungkin memengaruhi hasil penelitian.
Meski demikian, temuan ini menambah bukti bahwa minuman tingkatkan akibat kanker hati, terutama jika dikonsumsi secara rutin dalam corak minuman berpemanis gula. Mengurangi konsumsi soda dan minuman manis bungkusan dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga kesehatan hati dalam jangka panjang.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·