Soft Living, Hidup Anti-ruwet Di Tengah Ritme Yang Serba Terburu-buru

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

CNN Indonesia

Senin, 13 Apr 2026 11:15 WIB

Di tengah kehidupan nan serba sigap seperti sekarang, hidup sejatinya tak melulu kudu terburu-buru. Soft living barangkali bisa jadi jawabannya. Ilustrasi. Soft living bisa jadi solusi untuk hidup anti-ruwet di tengah ritme nan serba terburu-buru seperti sekarang. (Bino Storyteller/Unsplash)

Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah kehidupan nan serba sigap seperti sekarang, hidup sejatinya tak melulu kudu selalu terburu-buru. Kini, saatnya Anda ucapkan sampai bertemu pada 'hustle culture', dan beranjak ke 'soft living'.

Gaya hidup 'soft living' sendiri belakangan tengah jadi obrolan hangat di kalangan gen Z. Gaya hidup ini sejatinya membujuk Anda hidup lebih santuy dan anti-ngoyo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara sederhana, soft living adalah style hidup kalem dan anti-ruwet. Ketenangan batin, melangkah lebih santai, dan memahami batas jadi kunci style hidup ini.

Kendati demikian, soft living tak berfaedah bikin Anda terhindar dari stres. Tekanan bakal tetap ada, namun dengan respons stres nan lebih baik.

Soft living pada intinya konsentrasi pada hal-hal nan sering dilupakan di tengah kehidupan serba cepat: kesadaran diri dan keseimbangan dengan langkah memahami batasan. Mengutip Buzz Feed, kejadian ini muncul sebagai corak reaksi dari banyaknya pekerja muda nan mengalami burnout akibat ritme hidup nan terlampau sigap dan ambisius.

Berdasarkan info Gallup 2024, sebanyak 48 persen tenaga kerja dunia mengalami burnout di tempat kerja. Sementara info lainnya menyebut 76 persen mengalami kelelahan kerja setidaknya sekali.

Burnout terjadi akibat konsep hustle culture nan mengharuskan seseorang untuk terus bekerja keras untuk mengejar beragam pencapaian. Namun dengan soft living, Anda tak perlu terus-menerus mengejar pencapaian, tak perlu juga merasa bersalah saat sasaran tak sukses tercapai. Lebih dari itu, di sini Anda menerima dan menikmati segala proses nan berjalan.

Dengan demikian, soft living tak melulu soal penghasilan besar, tapi juga soal hidup nan anti-ruwet.

Tren ini sebenarnya dimulai di Afrika, utamanya Nigeria. Istilah ini menjadi ekspresi kemauan anak muda Nigeria untuk hidup lebih ringan di tengah tata kelola negara nan buruk.

Seiring berjalannya waktu, tren ini mulai ramai di media sosial, utamanya saat pandemi Covid-19, kala bumi melangkah lebih lambat. Pada fase ini, banyak orang sadar bahwa hidup tak selalu kudu ngebut.

Kala itu, orang-orang mulai belajar langkah beristirahat, menentukan batasan, dan menjalankan rutinitas nan bikin hari terasa lebih adem.

Popularitasnya semakin menanjak saat banyak konten media sosial memamerkan style hidup 'soft life' nan estetik. Konten-konten morning routine, journaling, dan lain sebagai ikut meramaikan tren soft living.

Beda dengan slow living

Sekilas, style hidup ini mirip dengan konsep slow living nan belakangan juga digandrungi. Namun, keduanya berbeda.

Menukil beragam sumber, slow living mendukung seluruh aspek kehidupan. Slow living membujuk Anda hidup lebih lambat dan mindful dengan mengubah style hidup secara drastis.

Contoh paling nyata adalah cerita soal seseorang nan memilih untuk menghindari kerja di perkotaan dan tinggal di desa nan dianggap lebih menenangkan. Di pedesaan, kehidupan melangkah lebih lambat, membikin seseorang bisa menikmati momen setiap detiknya tanpa kudu dikejar deadline dan omelan pemimpin di kantor.

Sementara soft living tetap memungkinkan Anda untuk menjalani hari-hari seperti biasa. Kamu tetap bisa jadi pekerja kantoran nan kudu menghadapi sasaran kerja setiap harinya. Hanya saja, Anda lebih tahu batasan. Soft living hanya mencakup aspek-aspek tertentu dalam kehidupan, tidak menyeluruh layaknya slow living.

Soft living tak berfaedah malas alias anti kerja-keras, sebagaimana nan sering disalah pahami. Kamu tetap bisa bekerja keras dan mencapai sasaran tertentu, tapi dengan tahu batas dan tanpa rasa bersalah saat sasaran itu tak tercapai.

Di sini, berjuang tak jadi satu-satunya langkah untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Kamu boleh berjuang, hanya saja dengan tetap memberikan kelonggaran di beberapa aspek.

Soft living juga tak berfaedah anti-stres. Seseorang tetap bakal mengalami stres akibat tekanan kerja, namun di sini, dia tahu langkah membuatnya menjadi lebih sederhana.

Soft living pada akhirnya jadi style hidup nan membujuk Anda hidup lebih seimbang dan tenang. Kamu bisa memberikan ruang untuk self-care, mengenali diri sendiri dengan batasan-batasan nan ditentukan, dan meluangkan waktu santuy tanpa merasa bersalah.

Dengan begitu, hidup di tengah segala nan serba terburu-buru seperti sekarang tak lagi terasa ruwet.

(asr)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-lifestyle