Siapa Orang Pertama Yang Jelaskan Fenomena Gempa Bumi Secara Ilmiah?

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Gempa yang melanda dunia, terjadi setiap hari namun dalam skala nan mini hingga tak terasa. Ketika gempa berjalan dalam skala besar, bukan saja tanah nan berubah apalagi ribuan nyawa melayang.

Dulu, ketika pengetahuan tentang Bumi dan gempa belum berkembang, manusia percaya bahwa ular raksasa, kura-kura, ikan lele, alias lelaba hidup di bawah tanah, dan aktivitas merekalah nan menyebabkan gempa.

Masyarakat antik di Nusantara seperti di Jawa dan Bali percaya bahwa gempa terjadi akibat pergerakan kura-kura raksasa (Bedawangnala) alias naga nan memikul Bumi. Saat hewan tersebut bergerak alias marah, Bumi bakal berguncang. Di India kuno, gempa dipercaya terjadi saat hewan-hewan seperti gajah alias ular nan menyeimbangkan Bumi berganti posisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perkembangan manusia, Aristoteles dipercaya sebagai orang pertama nan mencoba menjelaskan gempa Bumi berasas kejadian alam. Filsuf nan hidup pada 384-322 sebelum masehi itu, berhipotesis bahwa angin di dalam Bumi menghembuskan guncangan sesekali pada permukaan Bumi.

Angin nan terkurung berupaya keras untuk mendesak keluar dari dalam Bumi, nan mengakibatkan guncangan alias getaran di permukaan tanah. Dalam karyanya, Meteorologica, dia mengelompokkan gempa Bumi berbareng dengan petir, badai, dan komet sebagai bagian dari kejadian atmosfer.

Dikutip dari kitab "The Founders of Seismology" karya Charles Davison, dari laman projects.eri.ucsb.edu, pengamatan empiris tentang akibat gempa Bumi jarang terjadi, hingga tahun 1750, ketika Inggris diguncang secara tidak biasa oleh serangkaian lima gempa kuat.

Gempa ini diikuti pada hari Minggu, 1 November 1755, oleh guncangan luar biasa dan tsunami nan menewaskan sekitar 70.000 orang, meratakan kota Lisbon, Portugal, di saat banyak penduduknya berada di gereja. Peristiwa ini menandai awal era modern seismologi, nan mendorong banyak penelitian tentang dampak, lokasi, dan waktu terjadinya gempa Bumi.

Sebelum gempa Lisbon, para cerdas pandai nyaris secara eksklusif merujuk pada Aristoteles, Plinius, dan sumber-sumber klasik antik lainnya untuk penjelasan tentang gempa. Setelah gempa Lisbon, sikap ini ditinggalkan dan digantikan dengan pendekatan nan menekankan pendapat berasas pengamatan modern.

Pengamatan waktu dan letak gempa Bumi serta studi tentang akibat bentuk gempa Bumi dimulai dengan sungguh-sungguh, dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti John Michell di Inggris dan Elie Bertrand di Swiss.

Seiring dengan semakin umumnya komunikasi antar beragam bagian dunia, pengamatan gempa dari seluruh bumi dapat digabungkan. Setelah gempa di Chile pada tahun 1822, penulis Maria Graham melaporkan perubahan sistematis pada ketinggian garis pantai Chile.

Pengamatan perubahan garis pantai dikonfirmasi setelah gempa Chile tahun 1835 oleh Robert FitzRoy, kapten HMS Beagle , sementara Charles Darwin berada di darat untuk memeriksa pengetahuan bumi Pegunungan Andes.

Di Amerika Serikat, Grove Karl Gilbert, setelah mempelajari patahan dari gempa Owens Valley, California tahun 1872, menyimpulkan bahwa patahan merupakan karakter utama gempa, bukan karakter sekunder. Hingga zamannya, kebanyakan orang mengira bahwa gempa adalah akibat dari ledakan bawah tanah dan bahwa patahan hanyalah hasil dari ledakan tersebut, bukan karakter utama.

Akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an juga menyaksikan dimulainya penyelidikan ilmiah tentang gempa oleh para peneliti Jepang. Seikei Sekiya menjadi orang pertama nan diangkat menjadi guru besar di bagian seismologi; dia juga merupakan salah satu orang pertama nan menganalisis secara kuantitatif rekaman seismik dari gempa.

Peneliti Jepang terkenal lainnya dari masa itu adalah Fusakichi Omori, yang, di antara karya lainnya, mempelajari laju peluruhan aktivitas gempa susulan setelah gempa Bumi besar. Persamaannya tetap digunakan hingga saat ini.

Abad ke-20 telah menyaksikan peningkatan minat dalam studi ilmiah tentang gempa, nan terlalu rumit untuk dibahas di sini.

Namun, penelitian tentang gempa telah meluas dan kontribusi sekarang datang dari beragam wilayah nan terkena dampaknya, termasuk Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Kanada, Meksiko, Cina, Amerika Tengah dan Selatan, Selandia Baru, dan Australia, di antara lainnya.

(imf/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-tekno