CNN Indonesia
Minggu, 14 Jun 2026 06:31 WIB
Ilustrasi. Donor darah mempunyai sejarah nan cukup panjang dan tentunya selalu memberi faedah untuk orang nan membutuhkan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setiap tanggal 14 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Donor Darah Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya donor darah. Peringatan ini juga menjadi corak penghargaan kepada jutaan pendonor sukarela nan telah membantu menyelamatkan nyawa melalui setetes darah nan mereka berikan.
Dalam peringatan Hari Donor Darah Sedunia 2026, World Health Organization (WHO) mengusung tema "One Drop of Humanity. Give Blood. Save Lives." Tema tersebut menegaskan bahwa setiap tetes darah merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas antar sesama manusia.
Di kembali kampanye dunia tersebut, terdapat sejarah Hari Donor Darah Sedunia nan panjang dan erat kaitannya dengan perkembangan pengetahuan transfusi darah modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai penemuan ilmiah dan penemuan di bagian kesehatan menjadi fondasi krusial nan memungkinkan transfusi darah dilakukan dengan kondusif hingga saat ini. Melalui peringatan tahunan ini, masyarakat diajak memahami pentingnya donor darah secara rutin dan sukarela.
Selain itu, Hari Donor Darah Sedunia juga menjadi sarana edukasi mengenai kebutuhan darah nan terus meningkat di beragam negara. Oleh lantaran itu, memahami sejarah Hari Donor Darah Sedunia menjadi langkah krusial untuk mengenal perjalanan panjang di kembali praktik donor darah modern.
Sejarah Hari Donor Darah Sedunia
Sejarah Hari Donor Darah Sedunia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pengetahuan transfusi darah nan berjalan selama ratusan tahun. Mengutip National Library of Medicine, upaya transfusi darah telah dilakukan sejak abad ke-17, meski pada masa itu para intelektual tetap mempunyai pemahaman nan sangat terbatas mengenai sistem peredaran darah dan kecocokan darah antarindividu.
Pada tahun 1666, Richard Lower sukses melakukan transfusi darah antara dua ekor anjing. Keberhasilan tersebut menjadi tonggak awal penelitian mengenai kemungkinan transfusi darah pada manusia.
Setahun kemudian, master asal Prancis Jean Baptiste Denys mencoba melakukan transfusi darah dari anak sapi kepada seorang pasien manusia. Namun, pasien tersebut meninggal bumi akibat reaksi nan sekarang diketahui sebagai reaksi hemolitik.
Peristiwa itu memicu kontroversi besar hingga praktik transfusi darah sempat dilarang di sejumlah negara Eropa.
Perkembangan krusial kembali terjadi pada tahun 1818 ketika James Blundell sukses menyelamatkan seorang wanita nan mengalami perdarahan setelah melahirkan melalui transfusi darah dari suaminya.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa transfusi darah antarmanusia dapat dilakukan dan membuka jalan bagi penelitian nan lebih mendalam mengenai prosedur transfusi nan aman.
Kemajuan terbesar dalam bumi transfusi darah kemudian terjadi pada tahun 1901. Menurut WHO, Karl Landsteiner, seorang mahir biologi dan master asal Austria, sukses menemukan sistem golongan darah ABO.
Penemuan ini menunjukkan bahwa kecocokan golongan darah antara donor dan penerima merupakan aspek krusial untuk mengurangi akibat komplikasi saat transfusi. Berkat temuannya tersebut, prosedur transfusi darah menjadi jauh lebih kondusif dibandingkan sebelumnya.
Penelitian Karl Landsteiner terus berkembang. Pada tahun 1937, berbareng Alexander S. Wiener, dia sukses mengidentifikasi aspek Rhesus (Rh).
Penemuan tersebut semakin meningkatkan keamanan transfusi darah dan membantu tenaga medis menentukan kecocokan darah secara lebih akurat.
Atas kontribusinya nan sangat besar dalam bumi kedokteran, tanggal kelahiran Karl Landsteiner, ialah 14 Juni, kemudian dipilih sebagai tanggal peringatan Hari Donor Darah Sedunia.
Hari Donor Darah Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2004. Setahun kemudian, tepatnya pada 2005, Majelis Kesehatan Dunia ke-58 menetapkannya sebagai peringatan dunia tahunan.
Sejak saat itu, Hari Donor Darah Sedunia diperingati setiap 14 Juni untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor darah nan kondusif sekaligus memberikan penghargaan kepada para pendonor sukarela nan telah membantu menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.
Peringatan ini juga menjadi sarana untuk mendorong kesiapan darah nan cukup dan kondusif bagi pasien nan memerlukan transfusi, baik dalam kondisi darurat, proses persalinan, operasi, maupun pengobatan beragam penyakit serius.
(gas/tis)
Add
as a preferred source on Google
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·