Hari ini 1 Mei, Indonesia berbareng banyak negara di bumi memperingati Hari Buruh alias May Day. Peringatan untuk para pekerja ini bukan sekadar hari libur belaka, melainkan sebagai simbol perjuangan pekerja dalam menuntut kewenangan atas kehidupan nan layak.
Sebab di kembali peringatannya, Hari Buruh mempunyai sejarah panjang dan kelam nan menjadi tonggak lahirnya solidaritas untuk para pekerja di beragam negara.
Dikutip dari situs resmi Industrial Workers of the World (IWW), Jumat (1/5/2026), hari pekerja bermulai dari perjuangan para pekerja pada abad ke-18. Kala itu banyak pekerja dipaksa bekerja hingga 10-16 jam sehari dalam kondisi nan tidak layak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan kematian dan cedera dianggap sebagai perihal biasa di banyak tempat kerja. Tercatat ribuan pria, wanita, dan anak-anak meninggal sia-sia setiap tahun di tempat kerja, dengan angan hidup hanya sampai usia awal dua puluhan di beberapa industri, dan sedikit angan bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan selain kematian.
Kondisi ini kemudian mendorong banyak kaum pekerja meminta mempersingkat hari kerja tanpa pengurangan bayaran pada awal tahun 1860-an. Namun, baru pada akhir tahun 1880-an serikat pekerja bisa mengumpulkan kekuatan nan cukup untuk mendeklarasikan sistem 8 jam kerja sehari.
Proklamasi ini tentu disampaikan tanpa persetujuan dari pengusaha, namun dituntut oleh banyak personil kelas pekerja. Walau pada akhirnya sistem ini tentu tidak bisa melangkah sesuai angan lantaran para pekerja dan pekerja waktu itu tetap dipaksa untuk bekerja selama belasan jam.
Hingga pada 1884, dalam sebuah konvensi di Chicago-Amerika Serikat (AS), Federation of Organized Trades and Labor Unions alias FOTLU (saat ini sudah berganti nama jadi American Federation of Labor) dengan tegas memproklamirkan bahwa "delapan jam bakal menjadi hari kerja nan sah mulai tanggal 1 Mei 1886."
Pada tahun-tahun berikutnya, FOTLU terus menyuarakan tuntutan ini dan mendapatkan banyak support dari serikat pekerja di AS lainnya seperti Knights of Labor, Trades and Labor Assembly, serta Socialistic Labor Party.
Mogok Kerja Massal
Sampailah pada 1 Mei 1886, lebih dari 300.000 pekerja di 13.000 perusahaan di seluruh memutuskan untuk melakukan tindakan mogok kerja massal. Mereka meninggalkan pekerjaan dan pergi 'merayakan' Hari Buruh pertama dalam sejarah dengan tindakan unjuk rasa.
Di Chicago nan adalah pusat aktivitas 8 jam kerja dalam sehari, sekitar 40.000 orang melakukan pemogokan. Aksi ini terus bersambung selama beberapa hari dan jumlah pekerja nan ikut melakukan tindakan mogok semakin bertambah menjadi nyaris 100.000 orang.
Saat itu tindakan unjuk rasa selalu melangkah dengan damai, hingga pada 3 Mei 1886 kekerasan pecah di Pabrik Pemanen McCormick antara polisi dan para pekerja nan melakukan tindakan mogok.
Polisi setempat melakukan tindak kekerasan dengan memukul demonstran dengan pentungan. Keributan meningkat menjadi pelemparan batu oleh para pekerja nan mogok, nan kemudian dibalas polisi dengan tembakan. Setidaknya dua pekerja nan mogok tewas dan sejumlah lainnya terluka.
Diliputi amarah, sejumlah pekerja mengadakan pertemuan publik keesokan harinya (4 Mei 1886) di Haymarket Square untuk membahas kebrutalan polisi. Namun tindakan ini berubah menjadi ricuh setelah sebuah peledak dilempar ke arah polisi.
Insiden tersebut menewaskan sejumlah abdi negara dan penduduk sipil, serta memicu tindakan represif terhadap aktivis buruh. Sejumlah pemimpin pekerja kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman, meskipun bukti keterlibatan mereka dalam pelemparan peledak tetap diperdebatkan.
Singkat cerita, peristiwa Haymarket inilah nan menjadi titik kembali aktivitas pekerja global. Pada 1889, organisasi pekerja internasional menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk mengenang perjuangan tersebut sekaligus melanjutkan tuntutan hak-hak pekerja.
Di banyak negara termasuk India, Afrika Selatan, China, Jerman, Prancis, Spanyol, Portugal, dan Yunani hari pekerja ini kemudian dijadikan sebagai hari libur nasional. Di Indonesia sendiri, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 2014 dan rutin diisi dengan beragam aktivitas buruh.
Seiring waktu, peringatan ini berkembang menjadi simbol solidaritas pekerja di beragam negara. Isu nan diangkat pun meluas, mulai dari bayaran layak, jam kerja manusiawi, hingga perlindungan sosial dan kewenangan berserikat.
Dengan demikian, Hari Buruh Internasional tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga refleksi atas perjuangan nan tetap berjalan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh pekerja.
Simak Video "Video 400 Ribu Buruh hingga Ojol Bakal Padati Monas saat May Day"
[Gambas:Video 20detik]
(igo/ara)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·