CNN Indonesia
Rabu, 13 Mei 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Hantavirus berbeda dengan virus Covid-19. (iStockphoto/Md Saiful Islam Khan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hantavirus menjadi sorotan setelah muncul laporan pandemi di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan beberapa kasus kematian. Karena sama-sama bisa menimbulkan indikasi mirip flu dan gangguan pernapasan, banyak orang mulai membandingkannya dengan COVID-19.
Meskipun sama-sama disebabkan oleh virus dan dapat menyerang sistem pernapasan, COVID-19 dan hantavirus sebenarnya sangat berbeda dari sisi penyebab, langkah penularan, hingga akibat penyebarannya.
COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 nan mudah menular antarmanusia. Sementara itu, hantavirus merupakan golongan virus nan umumnya berasal dari hewan pengerat seperti tikus dan lebih sering menular melalui paparan lingkungan nan terkontaminasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa saja perbedaan utama antara COVID-19 dan hantavirus?
Asal-usul
Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), COVID-19 adalah penyakit akibat jangkitan virus SARS-CoV-2 nan pertama kali menyebar secara dunia pada 2020 dan kemudian menjadi pandemi.
Sementara itu, hantavirus bukan virus baru. Hantavirus merupakan golongan virus zoonotik nan sudah lama dikenal dan dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa hantavirus biasanya menular melalui paparan urine, feses, alias air liur tikus nan terinfeksi.
Di Indonesia sendiri, penelitian mengenai hantavirus sebenarnya sudah pernah ditemukan sejak lama. Studi Kosasih dan kolega tahun 2011 di jurnal Vector-Borne and Zoonotic Diseases melaporkan adanya jangkitan virus Seoul, salah satu jenis hantavirus, pada manusia dan tikus di Jawa Barat.
Penularan
Perbedaan terbesar COVID-19 dan hantavirus ada pada langkah penyebarannya.
COVID-19 sangat mudah menular antarmanusia melalui partikel pernapasan saat seseorang batuk, bersin, berbicara, alias bernapas. Karena itu, virus dapat menyebar sigap di rumah, kantor, sekolah, transportasi umum, hingga ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.
Sementara itu, hantavirus umumnya tidak menyebar melalui hubungan sehari-hari antarmanusia. Penularan paling sering terjadi ketika seseorang menghirup debu nan terkontaminasi urine, feses, alias air liur tikus nan terinfeksi, misalnya saat membersihkan gudang, rumah kosong, alias area tertutup nan banyak jejak tikus.
Mengutip European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), ada jenis tertentu seperti hantavirus Andes nan dalam kasus langka dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat berkepanjangan.
Gejala
Pada tahap awal, COVID-19 dan hantavirus memang bisa terlihat mirip lantaran sama-sama menimbulkan indikasi seperti flu.
COVID-19 dapat menyebabkan demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, hingga lenyap penciuman. Gejalanya bisa ringan sampai berat tergantung kondisi tubuh dan jangkitan nan terjadi.
Sementara itu, hantavirus biasanya dimulai dengan demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, menggigil, mual, muntah, hingga nyeri perut. Namun pada fase lanjut, hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dapat berkembang menjadi sesak napas berat lantaran paru-paru terisi cairan dan berpotensi fatal.
Masa inkubasi
Gejala COVID-19 umumnya muncul lebih sigap setelah paparan. CDC menyebut indikasi bisa muncul sekitar 2-14 hari setelah terinfeksi.
Sementara pada hantavirus, indikasi dapat muncul lebih lambat, apalagi 1-8 minggu setelah seseorang terpapar lingkungan nan terkontaminasi tikus. Karena itu, pasien kadang tidak langsung menyadari bahwa indikasi nan muncul berangkaian dengan aktivitas beberapa minggu sebelumnya.
Pencegahan
Karena pola penularannya berbeda, langkah pencegahan kedua penyakit ini juga berbeda. COVID-19 lebih difokuskan pada pencegahan penularan antarmanusia, seperti:
• Vaksinasi;
• Memakai masker pada situasi berisiko;
• Menjaga ventilasi;
• Mencuci tangan; dan
• Menghindari kontak dekat saat sakit.
Sementara itu, pencegahan hantavirus lebih konsentrasi pada mengurangi paparan tikus dan lingkungannya. WHO menyarankan beberapa langkah seperti:
• Menutup celah masuk tikus;
• Menyimpan makanan dengan rapat;
• Membersihkan kotoran tikus dengan disinfektan;
• Memakai sarung tangan alias masker saat membersihkan area berisiko; dan
• Menghindari menyapu kering kotoran tikus agar debu tidak beterbangan.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google
22 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·