Riset Ungkap Manfaat Tempe Bagi Otak, 'superfood' Penangkal Alzheimer?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Tempe selama ini dikenal sebagai lauk sederhana nan berkawan di meja makan masyarakat Indonesia. Namun di kembali harganya nan terjangkau, tempe sekarang mulai dilirik sebagai superfood berkah kandungan gizinya nan kaya dan faedah kesehatannya nan luas.

Sejumlah penelitian apalagi menunjukkan, konsumsi tempe berangkaian dengan kegunaan kognitif nan lebih baik, terutama pada lansia. Tak hanya itu, proses fermentasi pada tempe juga menghasilkan senyawa aktif nan diduga berkedudukan dalam menjaga kesehatan otak dan berpotensi membantu menurunkan akibat penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Lantas, benarkah tempe layak disebut sebagai superfood untuk otak? Apa kata riset ilmiah?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Riset pada Lansia: Konsumsi Tempe Berkaitan dengan Fungsi Kognitif Lebih Baik

Tempe nan selama ini dikenal sebagai makanan sederhana rupanya mempunyai kaitan dengan kesehatan otak, terutama pada lansia.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tempe berasosiasi dengan kegunaan kognitif nan lebih baik, khususnya pada aspek memori. Studi oleh Elizabeth Hogervorst nan dipublikasikan dalam jurnal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders menemukan bahwa lansia nan lebih sering mengonsumsi tempe mempunyai performa memori nan lebih baik dibandingkan mereka nan jarang mengonsumsinya.

Temuan ini diperkuat oleh studi intervensi nan dimuat di Frontiers in Nutrition, nan melaporkan adanya peningkatan skor kognitif sekitar 1-2 poin setelah konsumsi tempe dalam periode tertentu. Peningkatan ini dinilai signifikan dan terutama terlihat pada keahlian memori (recall).

Sebagai gambaran, kegunaan kognitif pada lansia umumnya memang menurun secara bertahap. Studi longitudinal dalam Journal of the American Geriatrics Society melaporkan bahwa skor kognitif seperti MMSE dapat menurun sekitar 0,1-0,3 poin per tahun pada lansia sehat, dan hingga 1-2 poin per tahun pada golongan dengan gangguan kognitif ringan.

Dalam konteks tersebut, temuan peningkatan skor kognitif pada konsumsi tempe menjadi menarik lantaran menunjukkan adanya perbaikan kegunaan memori dalam periode intervensi. Meski demikian, hasil ini tetap terbatas pada jangka pendek dan belum dapat disimpulkan sebagai pengaruh jangka panjang, termasuk dalam memperlambat penurunan kognitif seiring bertambahnya usia.

Kandungan Unik Tempe: Dari Isoflavon hingga Efek Fermentasi

Di kembali temuan faedah tempe terhadap kegunaan kognitif, para peneliti memandang peran krusial dari kandungan gizinya, terutama nan terbentuk selama proses fermentasi.

Dikutip dari USDA FoodData Central, dalam 100 gram tempe, terkandung sekitar:

  • Protein: ±18-20 gram
  • Lemak: ±10-11 gram
  • Karbohidrat: ±7-9 gram
  • Kalori: ±190 kkal
  • Folat (vitamin B9): ±24 mcg

Selain itu, tempe juga diketahui mengandung vitamin B12 dalam jumlah mini nan terbentuk selama proses fermentasi, ialah sekitar 0,06-0,12 mikrogram per 100 gram, meski kadarnya dapat bervariasi. Temuan ini dilaporkan dalam publikasi di jurnal Food Chemistry. Vitamin B12 berkedudukan krusial dalam kegunaan saraf dan pembentukan neurotransmiter, serta diketahui berangkaian dengan kesehatan kognitif pada lansia.

Tempe juga mengandung isoflavon sekitar 30-60 mg per 100 gram, ialah senyawa bioaktif dari kedelai nan mempunyai sifat antioksidan. Kandungan ini dilaporkan dalam beragam kajian, termasuk nan dipublikasikan dalam jurnal Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety dan Journal of Bioscience and Bioengineering, meski jumlahnya dapat bervariasi tergantung proses fermentasi. Isoflavon juga berkarakter mirip hormon estrogen dan dalam jurnal Nutritional Neuroscience disebut berpotensi membantu melindungi sel saraf serta mendukung kegunaan memori.

Selain kandungan tersebut, proses fermentasi turut memberikan kelebihan tersendiri dibanding kedelai biasa. Nutrisi menjadi lebih mudah diserap tubuh, dan terbentuk senyawa bioaktif baru. Tempe juga mengandung mikroorganisme nan berpotensi mendukung kesehatan usus, nan terhubung dengan otak melalui gut-brain axis. Studi dalam Frontiers in Aging Neuroscience menunjukkan bahwa keseimbangan mikrobiota usus dapat memengaruhi kegunaan kognitif melalui beragam jalur biologis.

Meski demikian, para mahir menekankan bahwa faedah ini tidak berdiri sendiri. Tempe tetap perlu dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan untuk memberikan akibat optimal bagi kesehatan otak.

Potensi Terkait Alzheimer, Didukung Sejumlah Studi Awal

Selain dikaitkan dengan peningkatan kegunaan kognitif, tempe juga mulai diteliti dalam kaitannya dengan penyakit Alzheimer, terutama melalui sistem biologis di tingkat sel.

Sebuah studi nan dipublikasikan dalam jurnal Journal of Ethnic Foods menunjukkan bahwa ekstrak tempe bisa menurunkan ekspresi sejumlah gen nan mengenai dengan Alzheimer, seperti PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF. Gen-gen ini diketahui berkedudukan dalam pembentukan plak beta-amyloid, peradangan otak, serta kerusakan sel saraf.

Selain itu, tempe juga menunjukkan aktivitas anti-asetilkolinesterase, ialah sistem nan membantu menjaga kadar neurotransmiter asetilkolin nan krusial untuk memori. Mekanisme ini serupa dengan langkah kerja beberapa obat nan digunakan dalam terapi Alzheimer.

Studi nan sama juga menunjukkan bahwa tempe mempunyai aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, nan dapat membantu menekan stres oksidatif dan peradangan, dua aspek nan berkontribusi dalam perkembangan penyakit neurodegeneratif.

Meski hasil ini terlihat menjanjikan, perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian tetap dilakukan pada tingkat laboratorium (sel), sehingga efeknya pada manusia tetap memerlukan penelitian lebih lanjut. Karena itu, tempe lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola makan sehat nan berpotensi mendukung kesehatan otak, bukan sebagai langkah pasti untuk mencegah Alzheimer.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Bedah Gizi Super Tempe

1 Konten

Tempe kerap disebut-sebut sebagai superfood. Nutrisinya kaya, rasanya pun banyak disuka. Dan nan paling penting, harganya cukup ekonomis jika dibanding sederet manfaatnya.

Sumber detik-health