Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan Indonesia terus memperkuat kerja sama dengan Prancis termasuk dalam pembelian perangkat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis.
Ia menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya sebatas pengadaan, tetapi juga mencakup transfer teknologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kita ketahui bahwa kita memperoleh alias membeli alat-alat pertahanan nan cukup strategis dari Prancis. Dan ini juga mempunyai turunan bahwa kita kudu juga bisa meningkatkan penguasaan teknologi terhadap hal-hal tersebut," ujar Sugiono dalam konvensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4).
Ia menyampaikan perihal itu usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas penguatan hubungan bilateral serta peningkatan kerja sama di beragam sektor, termasuk pertahanan.
Sugiono menambahkan pemerintah mendorong agar kerja sama pertahanan berkembang ke arah nan lebih luas, tidak hanya berakhir pada pembelian alutsista.
"Sehingga terjadi apa nan disebut satu kerja sama beyond procurement. Kita tidak hanya sebatas membeli saja, tetapi juga melakukan transfer teknologi dan penguasaan teknologi dari barang-barang nan kita beli," katanya.
Selain sektor pertahanan, kerja sama juga diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya di bagian pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Hal ini dinilai krusial untuk mendukung penguasaan teknologi dari alutsista nan dibeli Indonesia.
Sugiono menjelaskan pengadaan alutsista merupakan proses jangka panjang nan telah berjalan sejak beberapa tahun lalu, termasuk saat Prabowo tetap menjabat sebagai menteri pertahanan.
"Itu nan selalu diingatkan oleh Bapak Presiden bahwa nan namanya alutsista itu kita enggak bisa beli kayak beli peralatan di supermarket. Begitu kita butuh, kita mau punya itu enggak bisa, jadi prosesnya itu panjang," ujarnya.
Ia mencontohkan pengadaan pesawat tempur Dassault Rafale nan memerlukan waktu bertahun-tahun sejak pemesanan hingga realisasi pengiriman.
"Seperti contoh untuk pengadaan pesawat tempur Rafale, kita pesannya kurang lebih empat tahun nan lampau sampai itu berjalan," katanya.
Sugiono juga mengungkapkan adanya rencana kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis dalam waktu dekat. Kunjungan ini dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara nan telah terjalin erat.
"Dan juga rencana kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis dalam waktu dekat. Dan seperti nan kita ketahui bersama, bahwa hubungan pribadi antara kedua negara ini sangat dekat, nan merupakan modal besar hubungan bilateral," ujarnya.
(bac)
Add
as a preferred source on Google
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·