Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 20:00 WIB
Review movie Hokum (2026): Damian McCarthy menyajikan teror nan menjadi argumen dasar kenapa fans movie seram kecanduan dengan kisah gangguan dedemit. (dok. Neon via IMDb)
Endro Priherdityo
Hokum jelas menjadi pintu gerbang menjanjikan untuk pekerjaan komersil Damian McCarthy nan sejauh ini berkutat di ranah perfilman independen.
Jakarta, CNN Indonesia --
Untuk sebuah movie panjang, Hokum sebenarnya adalah movie dengan komposisi cerita nan sederhana. Namun langkah Damian McCarthy menggodok naskah dan menyajikannya secara visual patut diacungi jempol.
Dalam lama 1 jam 47 menit, sineas Irlandia tersebut menyajikan teror nan menjadi argumen dasar kenapa fans movie seram kecanduan dengan kisah gangguan dedemit: jumpscare dan adrenalin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
McCarthy juga menggunakan folklor dari negara asalnya sebagai bahan cerita, mengikuti jejak dua movie independen dia sebelumnya. Keputusan ini cerdas, lantaran memandang movie dengan latar cerita dan budaya nan mungkin belum diketahui banyak orang di bagian bumi lain jadi daya tarik tersendiri.
Dari kisah omongan orang tua nan diwariskan ke anak-anak sebagai pemali --dan ditampilkan secara harfiah oleh McCarthy di layar-- sutradara tersebut mengembangkannya dengan drama nan logis tanpa kehilangan aspek humanisnya.
Belum lagi McCarthy tak lupa menampilkan sajian jumpscare dan membangun atmosfer menegangkan sepanjang cerita. Meski jumpscare nan dia pilih tak ada nan mindblowing dan terbilang 'standar', sensasinya tetap terasa.
McCarthy seolah mengingatkan fans seram bakal argumen apa nan membikin mereka menggemari memandang teror supranatural di layar lebar. Ini sama seperti saat pertama kali memandang The Conjuring (2013) sebelum berkembang ke mana-mana.
Satu perihal nan patut diapresiasi dari McCarthy dan Hokum adalah movie seram tidak melulu kudu menampilkan teror alias tindakan biadab bin sadis nan ada di luar logika hanya demi menciptakan sensasi thrilling.
Aksi pidana nan dibawa McCarthy terbilang 'biasa saja' untuk film-film seram nan mempunyai kisah pembunuhan di dalamnya. Bahkan cerita McCarthy ini terasa seperti kisah misteri pembunuhan nan ada di dalam buletin pidana sehari-hari.
Hanya saja, pengantar kisah folklor Irlandia dan kerja apik dari tim kreasi produksi serta sorotan kamera Colm Hogan sanggup membikin kisah tersebut berbalut seram nan lumayan bikin resah saat duduk.
Review Hokum (2026): Untuk sebuah movie panjang, Hokum sebenarnya adalah movie dengan komposisi cerita nan sederhana. Namun langkah Damian McCarthy menggodok naskah dan menyajikannya secara visual patut diacungi jempol. (dok. Neon/Image Nation Abu Dhabi/Team Thrives/ Spooky Pictures/Tailored Films/Cweature Features via IMDb)
Meski tetap menyertakan aksi-aksi tolol karakter movie seram nan bikin geregetan, McCarthy tidak menampilkan tindakan kesurupan gempar dengan mata terbelalak serta teriak-teriak alias pun penampakan disertai scoring berlebihan nan memekakkan telinga seperti banyak movie seram Indonesia.
Tentu saja ada pula andil dari sang suhu scoring horor, Joseph Bishara, di kembali scoring nan 'nyaman' di telinga tersebut.
Bishara jelas paling tahu komposisi scoring macam apa nan membikin jantung penonton berdegup, tapi nan paling krusial adalah kapan scoring itu ditampilkan dan fungsinya nan mesti selaras dengan cerita juga visi sutradara.
Bicara soal jumpscare, salah satu perihal nan membikin kejutan dari McCarthy terbilang efektif adalah dia mengerti betul bentuk-bentuk gangguan macam apa nan mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari, nan terlihat antara kemunculan misterius dan halusinasi.
Ada momen-momen penampakan nan diberikan McCarthy dalam Hokum seperti mengiyakan khayalan otak seseorang saat dirinya bekerja sendirian di sebuah ruangan temaram kala malam dengan hujan petir. Atau sensasi seram seperti sedang diperhatikan dari belakang.
Review Hokum (2026): Kolaborasi nan apik antar karakter dalam movie ini juga menjadi aspek nan membikin visi seram McCarthy bisa tersampaikan ke penonton. Adam Scott, Peter Coonan, David Filmot, Florence Ordesh, dan tindakan epik Sioux Carroll adalah pion krusial di kembali drama seram Hokum. (dok. Neon/Image Nation Abu Dhabi/Team Thrives/ Spooky Pictures/Tailored Films/Cweature Features via IMDb)
Selain itu, McCarthy dan Hogan memahami bahwa waktu dan langkah kemunculan penampakan adalah prinsip dari jumpscare. Keduanya menyajikannya di momen nan tepat.
Bukan hanya tim kreasi produksi, Hogan, dan Bishara nan bekerja dengan apik dalam movie ini, tim tata rias dan kostum juga sukses mendukung visi McCarthy dalam Hokum.
Kolaborasi nan apik antar karakter dalam movie ini juga menjadi aspek nan membikin visi seram McCarthy bisa tersampaikan ke penonton. Adam Scott, Peter Coonan, David Filmot, Florence Ordesh, dan tindakan epik Sioux Carroll adalah pion krusial di kembali drama seram Hokum.
Hokum jelas menjadi pintu gerbang menjanjikan untuk pekerjaan komersil Damian McCarthy nan sejauh ini berkutat di ranah perfilman independen. Konsistensinya mengangkat folklor Irlandia dalam film-filmnya menjadi karakter unik tersendiri untuk sutradara tersebut.
Mengingat Hokum juga menghasilkan untung komersil nan dahsyat untuk McCarthy dan studio, satu angan nan muncul adalah untuk membiarkan movie ini dengan legasi nan sudah tercipta, tanpa perlu ada pengembangan serial alias semesta.
Belajar dari The Conjuring dan saga-saga movie seram nan saat dikembangkan malah makin absurd, semoga McCarthy tetap mempertahankan idealisme independennya dan memilih mengangkat folklor Irlandia lainnya dengan sajian nan lebih menjanjikan.
Bukan hanya lantaran karakter budaya dari sebuah wilayah jadi daya tarik tersendiri di layar lebar, tetapi disadari alias tidak, folklor antar wilayah meski berbeda ribuan kilometer mempunyai pola kesamaan nan menjadi misteri menakjubkan dari sejarah kehidupan umat manusia.
(end)
Add
as a preferred source on Google
9 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·