Respons Keras Iran Soal Trump Mau Blokir Selat Hormuz: Siap Hajar Balik!

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menakut-nakuti bakal memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir semua kapal nan mau melintas di Selat Hormuz. Hal ini disampaikan Trump setelah Iran menolak berakhir untuk mengembangkan nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz selama perundingan tenteram di Pakistan.

Menanggapi perihal ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut setiap kapal militer AS nan mendekati Selat Hormuz secara langsung melanggar gencatan senjata AS-Iran nan semestinya bertindak hingga 22 April. Oleh lantaran itu mereka menakut-nakuti bakal menindak tegas setiap kapal militer nan melewati area tersebut dengan kekuatan penuh.

"Jika musuh tidak mengerti, kami bakal membikin mereka mengerti," kata seorang personil bagian kedirgantaraan IRGC nan mengenakan busana militer dan masker hitam untuk menyembunyikan identitasnya melalui siaran televisi pemerintah seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (13/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IRGC juga menolak laporan militer AS nan mengatakan bahwa dua kapal perang milik Negeri Paman Sam sukses melewati Selat Hormuz sebagai persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut nan menghalangi jalur air strategis tersebut.

Di sisi lain, pernyataan IRGC ini turut mendapat support dari personil parlemen Iran nan didominasi oleh golongan garis keras. Bahkan mereka beranggapan bahwa ancaman Trump nan mau menutup Selat Hormuz hanyalah omong kosong.

"Apa nan dia (Trump) katakan setelah negosiasi hanyalah omong kosong. Dia hanya mengungkapkan keinginannya secara terang-terangan," kata Ebrahim Azizi, kepala komisi keamanan nasional parlemen Iran.

Di luar itu, banyak masyarakat Iran juga beranggapan bahwa AS tidak dalam posisi untuk mendikte gimana negara mereka kudu berperilaku alias untuk memilih kapal mana nan boleh lewat di Selat Hormuz.

"Jika blokade ini menjadi pertarungan antara ketahanan Republik Islam dan ketahanan pasar global, tidak bakal lama lagi kita bakal memandang siapa nan kalah. Iran siap untuk perang nan berkepanjangan," kata Zohreh Kharazmi, seorang guru besar madya di Universitas Teheran.

"Secara teknis, mereka (AS) tidak dapat mengendalikan situasi. Dengan strategi ala Hollywood, mereka tidak bakal bisa menang di medan pertempuran ini," sambungnya.

Imbas Eskalasi Perang Iran

Harga minyak melonjak tajam menyusul pengumuman Trump tentang blokade angkatan laut terhadap Iran. Minyak mentah Brent nan kerap menjadi patokan nilai internasional, naik lebih dari 8% pada hari Minggu (12/4) hingga menembus nomor US$ 103 per barel.

Harga minyak dunia saat ini memang sedang mengalami perubahan nan sangat besar sejak serangan AS-Israel terhadap Iran, mendorong Teheran untuk memberlakukan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam global.

Setelah mencapai nomor tertinggi US$ 119 per barel pada Maret kemarin, nilai minyak mentah Brent sempat turun di bawah US$ 92 per barel pada akhir pekan lampau setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu.

Selain pengaruhi nilai minyak global, pasar saham utama di Asia dibuka lebih rendah hari ini, Senin (13/4), lantaran ancaman blokade Trump memicu ketidakpastian di lantai perdagangan.

Indeks referensi Jepang Nikkei 225 tercatat telah turun 0,9% dalam perdagangan pagi ini waktu setempat. Sementara indeks KOSPI di Korea Selatan sudah turun lebih dari 1%.

Kontrak berjangka saham AS nan diperdagangkan di luar jam pasar reguler juga tercatat turun, dengan perjanjian berjangka nan mengenai dengan indeks referensi S&P 500 turun sekitar 0,8%.

(igo/fdl)

Sumber finance