Jakarta -
Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sakit di Beirut, Lebanon, setelah serangan udara Israel menewaskan ratusan orang. Ambulans nan datang tidak lagi berakhir di ruang darurat darurat, melainkan langsung menuju bilik jenazah.
Di sana, tenaga medis nan kelelahan menurunkan kantong-kantong berisi bagian tubuh korban. Keluarga nan bersungkawa kudu menghadapi realita pahit, lantaran jasad telah hancur.
Serangan udara paling mematikan dalam beberapa dasawarsa terakhir di Lebanon ini dilaporkan menewaskan lebih dari 250 orang. Di Beirut, puluhan korban jiwa berjatuhan, banyak di antaranya berasal dari wilayah pinggiran selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Reuters, petugas penyelamat tetap terus menyisir reruntuhan gedung untuk mencari korban. Tetapi, kondisi jasad nan ditemukan sering kali sudah tidak utuh, sehingga kudu disatukan dari beragam potongan sebelum proses identifikasi bisa dilakukan.
Sejumlah family apalagi kehilangan lebih dari satu personil sekaligus.
Keluarga Jalani Tes DNA untuk Identifikasi Jenazah
Kisah pilu datang dari Kheir Hamiyeh dan Abdelrahman Mohammed, penduduk Suriah berumur 24 tahun. Keduanya kudu menerima realita kudu kehilangan beberapa personil family dalam tragedi tersebut.
Tenaga medis dan petugas pertahanan sipil menggambarkan proses identifikasi ini sebagai pengalaman nan sangat berat. Banyak korban tidak dapat dikenali secara visual lantaran kerusakan tubuh nan parah, sehingga tes DNA disiapkan untuk membantu memastikan identitas.
Korban tidak hanya berasal dari penduduk Lebanon. Banyak penduduk Suriah nan tinggal di negara itu juga turut menjadi korban, menandakan akibat serangan ini meluas lintas negara.
Proses pemindahan pun tidak melangkah mudah. Akses ke beberapa wilayah terdampak tersendat oleh jalan sempit dan padat penduduk. Selain itu, dilaporkan ada penduduk nan tidak menerima peringatan sebelum serangan terjadi, sehingga terjebak di dalam bangunan.
(sao/kna)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·