Jakarta -
PT PLN (Persero) menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) serta Memorandum of Understanding (MoU) Integrated Business Solution untuk mendorong elektrifikasi operasional tambang. PJBTL dan MoU setidaknya dilakukan antara PLN dengan sejumlah produsen batu bara.
Perusahaan tersebut adalah PT Trubaindo Coal Mining sebesar 30 MVA, PT Sembada Makmur Sejahtera sebesar 55 MVA, PT Marga Bara Jaya sebesar 35 MVA, PT Maruwai Coal sebesar 71 MVA, PT Makmur Sejahtera Wisesa sebesar 106 MVA, dan PT Berau Coal sebesar 29 MVA.
Kemudian untuk skema Integrated Business Solution dilakukan anak upaya PLN melalui kerjasama dengan sejumlah perusahaan, seperti PT Masmindo Dwi Area untuk pembangunan instalasi dan gardu pelanggan, PT Maruwai Coal untuk pembangunan instalasi milik pelanggan, dan PT Sembada Makmur Sejahtera untuk pekerjaan engineering design dan pembangunan instalasi tegangan tinggi
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ari Hendrawanto, menilai elektrifikasi perangkat berat adalah kunci utama menekan emisi di wilayah operasional tambang. Langkah ini krusial untuk mencapai sasaran Net Zero Emissions (NZE) tahun 2060.
"Strategi pengurangan emisi dilakukan melalui beragam pendekatan, seperti pengurangan produksi, substitusi daya ke sumber lain seperti biomassa, serta peningkatan efisiensi dan elektrifikasi. Elektrifikasi perangkat berat menjadi salah satu solusi utama, mengingat konsumsi daya terbesar berada pada aktivitas pengangkutan dan pemindahan material," ujar Ari dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/4/2026).
Ari menambahkan, transisi ini memberikan untung finansial nyata bagi pelaku industri. Setidaknya, pelaku industri bisa menghemat Rp 2 miliar per tahun untuk setiap unit perangkat berat nan menggunakan diesel.
"Jika diterapkan secara luas, efisiensi nan dihasilkan bakal sangat besar," imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menegaskan urgensi transisi daya bukan sekadar menjawab tantangan iklim, tetapi juga memperkuat kemandirian daya nasional. PLN juga mendukung penuh pelaku industri melalui jasa inovatif nan disesuaikan dengan karakter kebutuhan tambang.
"Pengembangan green mining di sektor pertambangan menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memastikan keberlanjutan industri batu bara ke depan," ujar Adi.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga menyambut baik transisi tersebut. Menurutnya, kerja sama pelaku industri dengan PLN ini dianggap bisa saling menguntungkan.
"Nah ini adalah kesempatan nan baik, baik bagi kita produsen batu bara maupun PLN sebagai penyedia strumnya. Supaya ini terjadi simbiosis mutualisme nan paling menguntungkan," ungkap Ketua Umum APBI, Priyadi.
Adapun elektrifikasi ini dianggap sebagai langkah strategis industri dalam merespons tantangan perubahan suasana sekaligus tekanan perubahan nilai bahan bakar. Diketahui, titik kritis konsumsi daya berada pada tahap pengangkutan hasil tambang.
"Elektrifikasi PT Borneo Indobara merupakan langkah strategis menuju pertambangan hijau untuk merespons ancaman perubahan suasana dan tren kenaikan nilai bahan bakar. Transisi ini didukung oleh pembangunan prasarana kelistrikan secara masif berbareng PLN guna mengoperasikan beragam perangkat berat listrik serta stasiun pengisian daya bagi 700 unit truk listrik" jelas Division Head Project Expansion PT Borneo Indobara, Adi Supriyatna.
(acd/acd)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·