Jakarta -
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada hari Selasa. Lonjakan nilai daya nan dipicu oleh perang di Timur Tengah jadi biang kerok lesunya pertumbuhan ekonomi.
IMF menilai bumi sudah bergeser ke skenario nan lebih jelek dengan pertumbuhan lebih lemah lantaran gangguan pasokan daya imbas bentrok di Selat Hormuz terus berlanjut.
Setidaknya ada tiga skenario pertumbuhan ekonomi tahun ini nan dirilis IMF, lebih lemah, lebih buruk, dan sangat parah. Semua kondisi tergantung pada gimana kondisi perang Timur Tengah berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Reuters, Rabu (15/4/2026), pada prospek terburuk IMF, ekonomi dunia berada di periode resesi, dengan nilai minyak rata-rata US$ 110 per barel pada tahun 2026 dan US$ 125 pada tahun 2027.
Sementara itu prospek nan paling baik, IMF mengasumsikan bentrok di Timur Tengah berumur pendek dan nilai minyak kembali normal pada paruh kedua tahun 2026 dengan rata-rata nilai minyak US$ 82 per barel.
Sementara itu, di skenario akibat sedang, IMF membayangkan bentrok sedikit lebih panjang nan membikin nilai minyak tetap sekitar US$ 100 per barel tahun ini dan US$ 75 pada tahun 2027, dengan pertumbuhan dunia turun menjadi 2,5% tahun ini dari 3,4% pada tahun 2025.
Beberapa menit setelah merilis prospek tersebut, Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas justru mengatakan prospek itu bisa jadi sudah usang. Dia mengatakan gangguan daya nan terus bersambung dan tidak adanya jalan nan jelas untuk mengakhiri konflik, kemungkinan skenario jelek IMF terlihat sangat mungkin terjadi.
"Saya bakal mengatakan bahwa kita berada di antara skenario sedang dan skenario buruk. Dan tentu saja, setiap hari nan berlalu dan setiap hari kita mengalami lebih banyak gangguan di bagian energi, kita semakin mendekati skenario buruk," kata Gourinchas.
Padahal tanpa adanya bentrok di Timur Tengah, IMF memprediksi prospek pertumbuhan ekonomi bisa naik menjadi 3,4%, lantaran berlanjutnya peningkatan investasi teknologi, suku kembang nan lebih rendah, tarif AS nan tidak terlalu ketat, dan support fiskal di beberapa negara.
(acd/acd)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·