Pengusaha Ungkap Biang Kerok Pmi Manufaktur Ri Loyo

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian, Saleh Husin, merespons penurunan PMI Manufaktur Indonesia pada bulan Maret. PMI Manufaktur Indonesia bulan Maret ambruk ke posisi 50,1 dari sebelumnya di level 53,8 pada Februari.

Menurut Saleh, penurunan ini dipicu oleh pelemahan permintaan, khususnya penurunan pesanan ekspor baru, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, tekanan biaya produksi akibat kenaikan nilai daya dan gangguan rantai pasok turut menekan aktivitas industri.

"Kombinasi demand shock dan cost pressure ini membikin laju ekspansi industri melambat signifikan, mendekati pemisah stagnasi (level 50)," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saleh memprediksi PMI Manufaktur Indonesia tetap ekspansi tipis di atas level 50. Meskipun dia memperingatkan tetap ada tekanan eksternal.

"Ke depan, Kami selaku WKU Kadin bagian Industri condong memandang PMI tetap berpotensi memperkuat di area ekspansi tipis, namun sangat rentan terhadap tekanan eksternal," tambah Saleh.

Ia menjelaskan, pelemahan pesanan ekspor bakal berakibat langsung pada sektor padat karya melalui penurunan utilisasi kapasitas, tekanan margin, dan potensi penyesuaian tenaga kerja.

"Maka dari itu arah dari PMI bakal sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas nilai energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri," ujar Saleh.

Level PMI Manufaktur Indonesia menjadi nan terendah sejak Juli 2025 alias delapan bulan terakhir. Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti mengatakan penurunan itu dipicu oleh melemahnya permintaan dan gangguan pasokan bahan baku, nan sebagian besar dipengaruhi oleh bentrok di Timur Tengah.

Data survei menunjukkan bahwa volume output dan pesanan baru kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya sempat tumbuh.

"Menurut laporan personil panel, salah satu aspek utama di kembali penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah," kata Bhatti dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4).

(acd/acd)

Sumber finance