Pemimpin Negara Teluk Kumpul Di Jeddah Rapat Bareng Mbs, Bahas Apa?

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, memimpin pertemuan pemimpin negara-negara Teluk di Jeddah pada Selasa (28/4).

Ini merupakan pertemuan tatap muka pertama para pemimpin Teluk, sejak negara-negara di area itu terseret "medan perang" Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Media pemerintah Saudi mengatakan konsultatif Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) itu membahas topik dan isu-isu mengenai perkembangan regional dan internasional, dan upaya koordinasi mengenai perihal tersebut.

Dilansir New Arab, para pemimpin nan datang di antaranya Emir Qatar, Putra Mahkota Kuwait, Raja Bahrain, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab. Tidak diketahui siapa nan mewakili Oman, nan juga menjadi tuan rumah GCC berbareng Saudi.

Seorang pejabat anonim mengatakan pertemuan ini bermaksud merancang tanggapan terhadap ribuan serangan rudal dan drone Iran, nan dihadapi negara-negara Teluk sejak AS-Israel melancarkan perang ke Iran.

Perang itu menyebabkan kerusakan prasarana daya utama di keenam negara GCC. Beberapa sasaran antara lain perusahaan-perusahaan nan mengenai dengan AS dan prasarana sipil lain, serta instalasi militer.

GCC sendiri menghadapi beberapa kritik dari Uni Emirat Arab, gara-gara dianggap tidak memadai dalam menghadapi perang.

"Memang betul bahwa, secara logistik, negara-negara GCC saling mendukung. Tetapi secara politik dan militer, saya pikir posisi mereka adalah nan terlemah dalam sejarah," kata pejabat senior UEA, Anwar Gargash.

"Saya mengharapkan posisi nan lemah seperti itu dari Liga Arab, dan saya tidak terkejut karenanya, tetapi saya tidak mengharapkannya dari GCC, dan saya terkejut karenanya," imbuhnya.

Serangan di Teluk telah mereda sejak AS dan Iran sepakat gencatan senjata pada 8 April lalu.

Meski begitu negara-negara Teluk disebut dalam mode "waspada" terhadap bentrok nan bisa kembali terjadi, lantaran AS dan Iran belum menyepakati akhir bentrok secara permanen.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-internasional