Pbb Soroti Dugaan Represi Pakistan, Termasuk Tekanan Terhadap Aktivis

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Isu kewenangan asasi manusia di Pakistan kembali menjadi sorotan dalam sidang ke-61 Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (HAM PBB) di Jenewa, dengan perhatian tidak hanya pada situasi domestik, tetapi juga dugaan tekanan terhadap para pengkritik di luar negeri.

Dalam obrolan pada 27 Maret lampau di Palais des Nations, para aktivis dan pengamat mengaitkan praktik represi di dalam negeri dengan apa nan mereka sebut sebagai ekspansi tekanan ke luar wilayah Pakistan.

Mereka menilai bahwa sistem nan memungkinkan penghilangan paksa dan minimnya transparansi norma di dalam negeri sekarang juga digunakan untuk memengaruhi, mengintimidasi, dan membungkam bunyi kritis di diaspora.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di dalam negeri, tuduhan penghilangan paksa tetap menjadi perhatian utama.

Wilayah seperti Balochistan kerap disebut dalam laporan organisasi kewenangan asasi manusia, termasuk Human Rights Watch. Selama bertahun-tahun, family korban menggelar tindakan protes untuk menuntut kejelasan nasib kerabat mereka nan lenyap setelah berinteraksi dengan abdi negara keamanan.

Namun, upaya norma dinilai tetap terbatas, sementara akuntabilitas terhadap kasus-kasus tersebut dinilai minim.

Kasus Idris Khattak disebut sebagai salah satu contoh nan mendapat perhatian internasional. Ia dilaporkan mengalami penghilangan sebelum akhirnya diproses secara norma dalam kasus nan menuai kritik mengenai prosedur peradilan.

Namun, para pembicara di Jenewa menilai banyak kasus serupa lainnya tidak mendapatkan perhatian nan sama.

Dugaan tekanan lintas negara

Sejumlah peserta obrolan menyoroti adanya perubahan dalam pola tekanan, nan sekarang dinilai meluas secara geografis.

Kesaksian dari aktivis, termasuk Roshaan Khattak, menyebut adanya ancaman, pengawasan, dan corak tekanan tidak langsung nan dialami oleh aktivis Pakistan di Eropa dan Amerika Utara.

Metode nan digunakan disebut condong tidak formal, namun efektif. Di antaranya, personil family di Pakistan dipanggil alias diperiksa, arsip perjalanan mengalami penundaan, serta munculnya pesan anonim nan menimbulkan tekanan psikologis.

Penelitian oleh Freedom House mencatat Pakistan sebagai salah satu negara nan terlibat dalam praktik represi lintas negara (transnational repression), dengan kejadian nan dilaporkan di beragam wilayah.

Berbeda dengan operasi nan berskala besar dan terlihat di negara lain, pola nan dikaitkan dengan Pakistan dinilai lebih berkarakter berkepanjangan dan tidak mencolok.

Pendekatan tersebut dinilai susah untuk diatribusikan secara langsung, lebih susah ditindak secara hukum, dan lantaran itu condong lebih mudah berjalan dalam jangka panjang.

Sejumlah pembicara, termasuk Francesca Marino dan Peter Tatchell, menekankan bahwa tekanan di luar negeri tidak dapat dipisahkan dari kondisi domestik.

Mereka menilai bahwa lemahnya transparansi dan pengawasan lembaga di dalam negeri memungkinkan metode serupa diterapkan di luar negeri tanpa akibat nan jelas.

Hal ini menciptakan apa nan disebut sebagai kesinambungan kontrol, nan membentang dari organisasi lokal di Pakistan hingga jaringan diaspora di kota-kota besar di Barat.

Isu ini juga mencuat berbarengan dengan tindakan demonstrasi di sekitar kompleks PBB.

Sehari sebelumnya, Baloch National Movement menggelar tindakan di dekat monumen Broken Chair, Jenewa, untuk menyoroti dugaan pembunuhan di luar norma dan penghilangan paksa.

Aksi tersebut memperkuat keterkaitan antara rumor domestik di Pakistan dan pembelaan di tingkat internasional.

Tantangan bagi negara tuan rumah

Para pengamat menilai temuan ini mempunyai implikasi bagi negara-negara nan menjadi tempat tinggal diaspora.

Pemberian suaka alias izin tinggal dinilai belum tentu menjamin keamanan perseorangan dari tekanan eksternal.

Bentuk tekanan nan dilaporkan sering kali berada di bawah periode penegakan norma konvensional, namun secara kumulatif dapat memengaruhi perilaku dan membungkam kritik.

Diskusi tersebut juga menyoroti adanya kesenjangan dalam respons kebijakan.

Dokumentasi mengenai dugaan pelanggaran di dalam Pakistan terus bertambah, sementara bukti mengenai tekanan lintas negara juga semakin berkembang.

Namun, para peserta menilai respons kebijakan, baik di tingkat domestik maupun internasional, belum sepenuhnya sebanding dengan perkembangan tersebut.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-internasional