Jakarta, CNN Indonesia --
Fenomena benda angkasa bercahaya nan melintas di langit Lampung pada Sabtu (4/4) dan menghebohkan masyarakat diduga kuat merupakan sampah antariksa, bukan komet.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera Lampung (OAIL), Annisa Novia Indra Putri, Minggu (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fenomena langit nan menghebohkan masyarakat itu bukan komet, kemungkinan perihal itu sampah antariksa," ujar Annisa di Bandarlampung, dilansir Antara.
Annisa menjelaskan, kajian awal menunjukkan barang bercahaya dengan ekor tersebut mempunyai aktivitas dan lintasan nan tidak menyerupai karakter unik komet.
"Bahkan dari pecahan nan terlihat di video, itu bukan ciri-ciri komet," ucap Annisa.
Ia menyebutkan, barang langit tersebut kemungkinan besar sampah antariksa dari tubuh roket milik negara China.
"Namun begitu, barang langit tersebut tidak ancaman lantaran barang jatuh nan turun ke bumi sudah berinteraksi dengan atmosfer dan terbakar. Biasanya hanya sisa-sisa saja nan sampai ke permukaan bumi," tutur Annisa.
Hal senada disampaikan pula oleh Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.
Ia menjelaskan, barang bercahaya di langit Lampung tersebut merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B nan memasuki atmosfer bumi.
"Objek terang nan terlihat di langit itu adalah pecahan sampah antariksa. Ketika memasuki atmosfer nan makin padat, barang tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti serpihan cahaya," ujar Thomas pada Minggu, seperti dikutip dari laman BRIN.
Lebih lanjut, Thomas menjelaskan info dari Space-Track dan hasil kajian orbit barang tersebut. Sisa roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Sumatra.
Sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggian sisa roket tersebut turun hingga di bawah 120 kilometer, memasuki lapisan atmosfer nan lebih padat. Pada ketinggian tersebut, halangan udara meningkat sehingga objek kehilangan kecepatan.
Proses tersebut memicu gesekan intens nan menghasilkan panas tinggi, sehingga objek terbakar dan terfragmentasi sebelum akhirnya jatuh di permukaan bumi. Adapun kemungkinan besar pecahan roket tersebut jatuh tersebar di rimba alias laut.
Thomas mengatakan, kejadian sampah antariksa nan jatuh ke bumi bukan perihal nan langka secara global. Bahkan peristiwa serupa pernah terjadi pada 2022, ketika sebuah objek terlihat di Lampung dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.
Lebih lanjut, Thomas menegaskan bahwa kejadian ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat. Ia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik andaikan memandang kejadian serupa di masa mendatang.
Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial. Video tersebut menunjukkan sebuah barang bercahaya nan melintas di langit pada Sabtu (4/4) malam. Benda dengan ekor sinar kebiruan nan cukup panjang tersebut menarik perhatian sejumlah penduduk di Lampung.
(rti)
Add
as a preferred source on Google
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·