CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 14:00 WIB
Ilustrasi. Dampak bentakan orang tua pada psikologis anak. (iStockphoto/PRImage Factory)
Jakarta, CNN Indonesia --
Anak-anak tetap berada dalam tahap belajar memahami emosi, perilaku, dan langkah berkomunikasi dengan orang lain. Namun, ketika menghadapi situasi nan melelahkan, sebagian orang tua terkadang meluapkan emosi melalui bentakan.
Tapi, ada akibat bentakan pada psikologis anak nan perlu dipahami orang tua. Apa saja?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bentakan bukan hanya membikin anak merasa takut alias sedih sesaat. Jika terjadi secara berulang, perilaku ini dapat menjadi corak kekerasan emosional nan berpengaruh terhadap kesehatan mental anak.
Akibatnya, anak dapat belajar bahwa bunyi keras dan kemarahan adalah langkah untuk menyelesaikan masalah. Oleh lantaran itu, memahami akibat bentakan pada anak menjadi langkah krusial agar orang tua dapat menerapkan pola asuh nan lebih positif.
Dampak bentakan pada psikologis anak
Dikutip dari Better Help, berikut akibat bentakan pada psikologis anak nan perlu diketahui orang tua.
1. Meningkatkan stres dan kekhawatiran anak
Ketika anak sering menerima bentakan, tubuhnya dapat merespons dengan meningkatkan hormon stres. Anak mungkin merasa selalu waspada lantaran takut melakukan kesalahan alias kembali dimarahi.
Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat membikin anak lebih mudah resah dan susah merasa kondusif di lingkungan rumah.
2. Memicu perilaku agresif
Anak banyak belajar melalui contoh nan diberikan orang tua. Ketika anak sering memandang komunikasi dilakukan dengan bunyi keras alias kemarahan, mereka dapat menganggap perilaku tersebut sebagai langkah nan wajar untuk menyampaikan perasaan.
Akibatnya, anak mungkin meniru perilaku tersebut dengan membentak kembali, mudah marah, alias menunjukkan agresivitas kepada kawan maupun personil family lainnya.
3. Membuat anak menarik diri
Tidak semua anak merespons bentakan dengan melawan. Sebagian anak justru memilih diam, menjauh, alias menutup diri. Anak nan sering dimarahi dapat merasa bahwa pendapat dan perasaannya tidak dihargai.
Jika berjalan terus-menerus, anak mungkin lebih nyaman mencari support dari orang lain, seperti kawan alias guru, dibandingkan berbincang dengan orang tuanya sendiri.
Salah satu akibat bentakan pada psikologis anak nan cukup serius adalah munculnya pandangan negatif terhadap diri sendiri. Anak dapat merasa dirinya tidak cukup baik, selalu salah, alias tidak bisa memenuhi angan orang tua.
Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi rendah diri nan terbawa hingga anak tumbuh dewasa. Mereka juga mungkin mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan lantaran takut melakukan kesalahan.
5. Mengganggu keahlian sosial dan perilaku anak
Anak nan terbiasa mendapatkan perlakuan keras dapat mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial. Mereka mungkin lebih mudah mengalami konflik, susah mengendalikan emosi, alias menunjukkan perilaku bermasalah.
Bahkan, beberapa anak dapat meniru pola komunikasi nan mereka terima dan melakukan perundungan terhadap orang lain lantaran mempunyai pemahaman nan keliru tentang batas dalam hubungan.
6. Meningkatkan akibat masalah kesehatan mental
Bentakan nan terus berulang dapat memberikan akibat jangka panjang terhadap kondisi psikologis anak. Anak nan mengalami kekerasan verbal berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, perilaku menyakiti diri sendiri, hingga pandangan negatif terhadap kehidupan.
Hubungan emosional nan terbentuk sejak mini juga dapat memengaruhi langkah anak menjalin hubungan ketika dewasa.
Karena itu, pola komunikasi dalam family mempunyai peran besar dalam perkembangan mental anak.
Nah, itulah akibat bentakan pada psikologis anak nan jarang disadari oleh orang tua.
Pada akhirnya, anak memerlukan pengarahan nan membantu mereka memahami kesalahan, bukan rasa takut akibat bentakan.
(gas/asr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·