Ngotot Perang, Trump 'tendang' Netanyahu Dari Pembicaraan Nego Iran

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan 'ditendang' Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari pembicaraan tenteram dengan Iran.

Sejumlah pejabat pertahanan Israel mengatakan sikap Trump kepada Netanyahu itu berubah dari sebelumnya rekan obrolan menjadi hanya "seorang penumpang" setelah serangan campuran AS-Israel kandas menghancurkan Republik Islam Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut para pejabat, Trump dan pemerintahannya keki setelah prediksi Netanyahu bakal kemenangan atas Iran kandas total.

Karenanya, Trump nyaris sepenuhnya mengeluarkan Netanyahu dari pembicaraan gencatan senjata dengan Iran.

Dua pejabat pertahanan Israel meminta bicara secara anonim kepada The New York Times lantaran sensitivitas masalah.

Menurut para pejabat, lantaran kondisi ini, Israel pun terpaksa mengumpulkan info mengenai komunikasi AS-Iran melalui hubungan mereka dengan para pemimpin dan diplomat Timur Tengah, serta melalui pengawasan mereka sendiri dari dalam rezim Iran.

Para pejabat menuturkan pemerintahan Trump tampaknya tidak bakal bersikeras memasukkan masalah rudal balistik Teheran ke dalam kesepakatan lantaran telah mengecualikan Israel dari negosiasi. Dalam perihal ini, kesepakatan apa pun nan dibuat tampaknya tidak bakal lebih baik dari perjanjian tahun 2015, nan dikritik keras Netanyahu lantaran tidak membahas rudal Iran.

Israel juga menduga bahwa AS bisa saja setuju untuk mencabut hukuman ekonomi terhadap Iran, nan sejak awal menjadi syarat Teheran. Hal ini berpotensi membikin Iran mendapatkan kembali pundi-pundi duit mereka dan akhirnya mempersenjatai diri lagi untuk melawan Tel Aviv.

Situasi ini merupakan kemunduran jelas bagi Netanyahu nan pada awal perang menyombongkan hubungan karibnya dengan Trump.

Menjelang serangan 28 Februari, Netanyahu tidak hanya duduk memantau mendampingi Trump, tetapi juga memimpin obrolan mengenai rencana serangan.

Sejak lama Netanyahu memposisikan diri di hadapan rakyat Israel bak penasihat Trump. Dalam pidatonya menjelang pemilihan umum, dia meyakinkan penduduk Israel bahwa dia bicara dengan Trump nyaris setiap hari dan berganti buahpikiran serta memutuskan suatu perihal "bersama."

Pada awalnya, Trump memang percaya bahwa rencana Netanyahu bakal melangkah mulus. Namun, banyak orang di lingkaran Trump merasa bahwa rencana penggulingan rezim, nan dikejar Netanyahu pasca membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, tidak masuk akal.

Seiring berjalannya perang, prioritas AS dan Israel mulai berseberangan, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz dan menyebabkan nilai minyak bumi melambung.

Trump beranjak mau mengakhiri pertempuran. Ia perlahan mengubah pandangannya terhadap Netanyahu dengan hanya menganggapnya sebagai sekutu perang, bukan mitra dekat dalam perihal negosiasi.

Bahkan, menurut para pejabat Amerika, Trump menganggap Netanyahu sebagai seseorang nan perlu dibatasi dalam perihal menyelesaikan konflik.

Seiring dengan ini, Trump mulai memegang kendali sendiri atas perang melawan Iran. Ia meminta Israel menunggu "lampu hijau" dari AS dalam situasi sensitif, seperti ketika Trump beriktikad mengembalikan Iran ke era batu.

Pengucilan ini sangat susah diterima sejumlah pejabat Israel nan mencatat bahwa Tel Aviv dengan sukarela memikul beberapa tugas nan lebih kontroversial, termasuk melakukan pembunuhan di luar norma terhadap pemimpin sebuah negara berdaulat. Ini merupakan sesuatu nan belum pernah dilakukan Amerika Serikat sebelumnya.

(blq/rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional