Nggak Kok, Digoreng Nggak Bikin Nutrisi Tempe Rusak

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Jakarta -

Tempe goreng kerap dicap "kurang sehat" lantaran proses penggorengan nan identik dengan lemak tambahan. Tak sedikit pula nan menganggap nilai gizinya menurun drastis dibandingkan tempe segar. Namun, benarkah demikian?

Tidak sepenuhnya salah, lantaran pada dasarnya goreng-gorengan memang sebisa mungkin dihindari. Apalagi jika minyak nan digunakan tidak bersih, maka akibat nan muncul bakal lebih besar dibanding faedah nan didapat dari nutrisi tempe.

Namun juga tidak seratus persen benar, karena nutrisi tempe tidak segampang itu rusak hanya lantaran digoreng. Apalagi jika menggorengnya tidak terlalu lama, dengan minyak nan terjaga kualitasnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah Tempe Goreng Masih Menyimpan Nutrisi Penting?

Secara ilmiah, proses penggorengan memang dapat memengaruhi beberapa kandungan unsur gizi, terutama vitamin nan sensitif terhadap panas. Namun, komponen utama tempe seperti protein, serat, dan sebagian mineral tetap relatif stabil.

Tempe sendiri merupakan hasil fermentasi kedelai oleh kapang Rhizopus, nan justru meningkatkan kualitas gizinya. Menurut beragam kajian di bagian Ilmu Gizi, fermentasi membantu memecah senyawa kompleks menjadi corak nan lebih mudah dicerna, termasuk protein dan masam amino esensial. Selain itu, tempe juga mengandung senyawa bioaktif seperti isoflavon nan berkedudukan sebagai antioksidan.

Saat digoreng, kandungan protein dalam tempe tidak serta-merta rusak. Struktur protein memang bisa berubah lantaran panas, tetapi nilai gizinya tetap dapat dimanfaatkan tubuh. nan perlu diperhatikan justru adalah penambahan lemak dari minyak goreng, nan bisa meningkatkan total kalori.

Lembaga seperti World Health Organization juga menekankan bahwa metode memasak sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan gizi secara keseluruhan, bukan hanya satu teknik tertentu. Artinya, tempe goreng tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat selama dikonsumsi dengan bijak dan tidak berlebihan.

Dengan kata lain, tempe goreng tidak kehilangan "jati diri" gizinya, tetap menjadi sumber protein nabati nan baik, hanya dengan profil lemak nan sedikit berbeda akibat proses pengolahan.

Efek Penggorengan pada Kandungan Protein dan Lemak Tempe

Proses penggorengan memang mengubah komposisi gizi tempe, terutama pada kandungan lemak dan total kalorinya. Data komposisi pangan menunjukkan, tempe segar umumnya mengandung sekitar 8-10 gram lemak per 100 gram, sementara setelah digoreng jumlahnya bisa meningkat menjadi sekitar 14-20 gram, tergantung teknik dan lama penggorengan.

Kenaikan ini terjadi lantaran minyak terserap ke dalam tempe saat air di dalamnya menguap. Dampaknya, nilai daya juga ikut naik-dari kisaran 150-190 kkal per 100 gram pada tempe segar menjadi bisa di atas 250 kkal setelah digoreng.

Di sisi lain, kandungan protein tempe relatif tetap stabil, ialah sekitar 18-20 gram per 100 gram. Dalam kajian Ilmu Pangan, panas dari proses memasak memang menyebabkan denaturasi protein, tetapi tidak menghilangkan nilai gizinya. Justru, perubahan struktur ini dapat membikin protein lebih mudah dicerna oleh tubuh.

Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan kualitas minyak nan digunakan. Minyak nan dipanaskan berulang kali dapat mengalami degradasi dan menghasilkan senyawa nan kurang baik bagi kesehatan. Karena itu, penggunaan minyak segar dan penggorengan dengan suhu nan tidak terlalu tinggi menjadi aspek krusial dalam menjaga kualitas gizi tempe goreng.

Selain itu, beberapa vitamin nan larut dalam air, seperti vitamin B kompleks, bisa berkurang selama proses penggorengan. Namun di sisi lain, penambahan sedikit lemak dari minyak justru membantu penyerapan vitamin larut lemak, seperti vitamin A dan E, nan juga terdapat dalam makanan pendamping.

Dengan memahami perubahan ini, tempe goreng tidak perlu dihindari sepenuhnya. Kuncinya terletak pada langkah mengolah dan gelombang konsumsinya, agar faedah gizinya tetap bisa diperoleh tanpa memberi beban berlebih bagi tubuh.

Tips Mengolah Tempe Goreng agar Lebih Sehat

Meski tetap bergizi, langkah mengolah tempe goreng perlu diperhatikan agar manfaatnya tidak "tertutup" oleh kelebihan lemak. Beberapa perihal sederhana bisa membantu menjaga kualitas gizinya, mulai dari penggunaan minyak hingga teknik memasak.

Pertama, gunakan minyak nan tetap baru dan tidak dipakai berulang kali. Minyak nan sudah acapkali dipanaskan dapat mengalami kerusakan dan menghasilkan senyawa nan kurang baik bagi tubuh.

Kedua, perhatikan suhu minyak, tidak terlalu panas agar tempe tidak sigap gosong di luar namun tetap menyerap minyak berlebih di dalam.

Selain itu, lama menggoreng juga sebaiknya tidak terlalu lama. Menggoreng secukupnya hingga matang dan berwarna keemasan sudah cukup untuk menjaga tekstur sekaligus meminimalkan penyerapan minyak. Alternatif lain, tempe juga bisa diolah dengan langkah ditumis ringan alias menggunakan teknik air fryer untuk mengurangi penggunaan minyak.

Dalam Tempe Workshop nan diadakan oleh Next Door by Pantry Magic berbareng detikEvent, baru-baru ini, pegiat fermentasi pangan Dr Ir Wida Winarno menekankan bahwa setiap langkah masak mempunyai kelebihan masing-masing.

"Ternyata masing-masing punya karakter alias kelebihan sendiri. Jadi lantaran kita di Indonesia punya ragam menu juga macam-macam. Ada nan lebih menjaga vitamin tertentu, ada juga nan membantu penyerapannya di tubuh. Misalnya, vitamin C lebih terjaga jika dikukus, sedangkan vitamin A lebih mudah diserap setelah dimasak dengan sedikit lemak, seperti ditumis menggunakan sedikit minyak alias dimasak dengan santan. Marilah kita makan dengan beragam variasi." jelas co founder Indonesia Tempe Movement nan mempunyai nama original Ignatia Widya Kristiari tersebut.

Dengan kata lain, tempe goreng tetap bisa dinikmati sebagai bagian dari pola makan sehat, selama diimbangi dengan ragam langkah memasak dan pilihan menu nan beragam.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Bedah Gizi Super Tempe

11 Konten

Tempe kerap disebut-sebut sebagai superfood. Nutrisinya kaya, rasanya pun banyak disuka. Dan nan paling penting, harganya cukup ekonomis jika dibanding sederet manfaatnya.

Sumber detik-health