Netanyahu Di Bawah Tekanan Gegara Deal As-iran

Sedang Trending 7 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di bawah tekanan domestik usai Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai.

Financial Times melaporkan pihak oposisi maupun sekutu Netanyahu kecewa dan frustrasi dengan sang PM lantaran AS dan Iran malah mencapai mufakat. Padahal, tujuan perang Israel belum ada nan tercapai satu pun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat membujuk AS untuk ikut menyerang Iran, Israel muluk-muluk berbicara bahwa serangan berbareng Tel Aviv-Washington bisa menggulingkan rezim Teheran. Faktanya, kepemimpinan Iran malah diteruskan oleh putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei, usai nan berkepentingan tewas diserang.

Program rudal balistik Iran juga tidak tersentuh sedikit pun. Israel mau menghancurkan seluruh rudal balistik Iran lantaran dianggap ancaman. Kenyataannya, kesepakatan AS-Iran tidak menyinggung tentang rudal-rudal Teheran.

Proksi Iran di Timur Tengah juga kondusif dari gangguan. Milisi-milisi bekingan Iran tidak dipersoalkan dalam kesepakatan. Hanya program nuklir Iran nan menjadi masalah utama AS.

Kesepakatan AS-Iran sendiri sudah tercapai sejak Minggu (14/6). Netanyahu baru buka bunyi pada Senin (15/6) dan mencoba meyakinkan masyarakat bahwa serangan Israel ke Iran sukses melindungi negara itu dari ancaman.

Netanyahu juga terlihat berupaya menghindari mengkritik keputusan Trump bermufakat dengan Iran.

"Dia presiden Amerika Serikat. Saya perdana menteri Israel. Seringkali kami mempunyai pandangan nan sama, tetapi ada juga saat-saat di mana kami mempunyai pandangan berbeda. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel dan menjunjung tinggi perihal tersebut," kata Netanyahu.

Dalam pernyataannya, Netanyahu juga tampak mencoba menjauhkan diri dari keputusan Trump. Ia tak mau dilibatkan dengan kesepakatan AS-Iran.

"Kesepakatan ini dilakukan oleh presiden Amerika Serikat ... itu keputusannya dan dia nan memimpinnya. Saya menyampaikan pendapat saya dalam percakapan kami," ujar Netanyahu.

Kritikus Israel, Nahum Barnea, telah menyuarakan kritiknya atas ketidakcakapan Netanyahu dalam mencapai tujuan perang.

Dalam tulisannya di harian Yedioth Ahronoth, Barnea mempertanyakan keahlian Netanyahu memengaruhi Trump sebelum kesepakatan diteken serta nasib kebebasan operasi Israel setelah kesepakatan dibuat.

"Dia adalah pelayan nan pura-pura memberontak. Pemberontakan ini tidak bakal berhasil," tulisnya.

Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, juga mengkritik Netanyahu nan bak membual.

"[Netanyahu] terus mengatakan kepada semua orang: 'Kita sudah mengubah Timur Tengah.' Masalahnya adalah, lantaran kelalaian, kesombongan, ketiadaan tim ahli nan memadai, dan penilaian nan dipengaruhi oleh hal-hal lain, dia justru mengubahnya menjadi lebih buruk," kata Lapid di media sosial X.

Pada Rabu (17/6), AS dan Iran akhirnya meneken nota kesepahaman. Penandatanganan dilakukan oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara jarak jauh.

Isi MoU juga diungkap, nan mencakup 14 poin. Sejumlah pihak menilai MoU ini kemenangan bagi Iran lantaran sebagian besar kesepakatan lebih menguntungkan Teheran.

Menurut seorang pejabat Israel nan bicara kepada CNN, Netanyahu diam-diam mencoba mengubah kesepakatan AS-Iran nan tetap bakal dirundingkan dalam waktu 60 hari. MoU ini memang bakal dibahas lebih perincian dan teknis sebelum perjanjian final dibuat.

Upaya Netanyahu itu disebut dilakukan dengan menggunakan media sayap kanan serta senator AS nan berkawan dengannya. Tujuannya, untuk menekan Trump agar memihak kembali ke Israel.

Kantor Netanyahu sejauh ini tidak berkomentar tentang perihal ini.

(isa/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional