CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 09:00 WIB
Ilustrasi paspor Indonesia. (iStockphoto/BanarTABS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan signifikan pada jumlah masyarakat Indonesia nan memilih untuk pindah dan menetap di luar negeri.
Fenomena ini tercermin dari posisi nomor migrasi internasional neto Indonesia nan mencatatkan rapor minus.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) terbaru, ketimpangan antara jumlah penduduk nan keluar dan masuk ke Indonesia melebar cukup drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan nomor migrasi keluar internasional nan lebih besar dari migrasi masuk menunjukkan bahwa lebih banyak masyarakat Indonesia nan beranjak ke luar negeri.
BPS mencatat nomor migrasi neto internasional Indonesia berada di posisi minus 0,53 per 1.000 orang, alias setara dengan berkurangnya 53 orang dari setiap 100.000 masyarakat secara tahunan.
Jika dikalkulasikan dengan total populasi Indonesia nan mencapai 284,67 jiwa, maka defisit tersebut menunjukkan bahwa rata-rata ada 150.875 penduduk negara Indonesia (WNI) nan berimigrasi ke luar negeri setiap tahunnya.
"Berdasarkan SUPAS, nomor migrasi neto internasional tercatat minus 0,53. Hal ini berfaedah pada periode Long Form Sensus Penduduk (LF SP) dan SUPAS terdapat pengurangan masyarakat akibat migrasi internasional rata-rata 53 orang per 100 ribu masyarakat setiap tahunnya," ujar pihak BPS dalam konvensi pers di Jakarta, seperti dilansir CNBC, pada 5 Mei lalu.
Ketimpangan ini dipicu oleh tingginya nomor penduduk nan meninggalkan Indonesia dibandingkan arus migrasi nan masuk ke dalam negeri:
- Angka Migrasi Keluar (Out-Migration): Menyentuh 114 orang per 100.000 masyarakat setiap tahun.
- Angka Migrasi Masuk (In-Migration): Hanya memperkuat di nomor 61 orang per 100.000 masyarakat setiap tahun.
Kecenderungan penduduk RI untuk merantau ke luar negeri saat ini tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan periode survei pada lima hingga sepuluh tahun lalu.
Angka migrasi neto berasas SUPAS 2025 nan sebesar 53 orang per 100 ribu masyarakat pun lebih tinggi dibandingkan dengan hasil LF SP 2020, maupun SUPAS 2015.
Dalam hasil LF SP 2020 jumlah migrasi neto hanya 11 orang per 100 ribu masyarakat lantaran migrasi masuk hanya 43 per 100 ribu orang sedangkan migrasi keluar 32 per 100 ribu penduduk.
Sementara dalam SUPAS 2015 jumlah migrasi neto internasional 50 per 100 ribu penduduk, lantaran migrasi masuk sebanyak 36 per 100 ribu masyarakat sedangkan migrasi keluarnya sebanyak 86 per 100 ribu penduduk.
Melalui komparasi tersebut, terlihat jelas bahwa setelah sempat melandai pada periode tahun 2020, gelombang perpindahan masyarakat Indonesia ke luar negeri kembali melonjak tajam dan mencetak nomor tertinggi pada periode survei terbaru.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·