Kompetisi 'balap Sperma' Digelar Di As, Bawa Pesan Kesadaran Kesuburan Pria

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Jakarta -

Kompetisi unik sekaligus kontroversial bakal digelar tahun ini. Para laki-laki dari beragam negara diajak mengadu kecepatan sperma dalam arena berjudul 'Piala Dunia Balap Sperma 2026', dengan bingkisan utama US$100.000 alias sekitar Rp 1,7 miliar.

Ajang ini disebut sebagai kejuaraan berbasis sains nan dikemas layaknya olahraga profesional. Sebanyak 128 sampel sperma dari negara berbeda bakal dipertandingkan di lintasan mikroskopis di San Francisco, Amerika Serikat, pada bulan Mei 2026.

Apa Itu 'Balap Sperma'?

Dalam kejuaraan ini, peserta mengirimkan sampel sperma nan kemudian diproses di laboratorium menggunakan teknik seperti inkubasi, pencucian sperma, pipet, dan sentrifugasi. Salah satu pendiri acara, Eric Zhu, menjelaskan proses tersebut bermaksud mengisolasi sel sperma nan paling layak untuk dilombakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah itu, sperma bakal dipacu di lintasan mikrofluida sepanjang 400 mikron alias sekitar 0,02 inci, kira-kira seukuran butiran garam. Arus mikro di dalam saluran dibuat menyerupai hambatan, sehingga tiap sampel diuji hingga pemisah maksimal kemampuannya.

Seperti Apa Kriteria Pemenangnya?

Pemenang ditentukan dari spermatozoa nan pertama kali melewati garis finis. Pemilik sperma tercepat bakal membawa pulang bingkisan sekitar Rp 1,7 miliar.

Layaknya turnamen sepak bola, 128 peserta bakal menjalani babak kualifikasi, lampau masuk fase gugur hingga tersisa satu juara. Kompetisi juga bakal disiarkan secara online menggunakan kamera resolusi tinggi.

Penonton bisa memandang papan skor, progres lomba, hingga info kesehatan peserta seperti komposisi tubuh dan biomarker.

Menurut salah satu pendiri lain, Shane Fan, arena ini telah menarik lebih dari 10 ribu pelamar dari seluruh dunia. Itu termasuk dari Amerika Serikat, Iran, Israel, hingga Korea Utara.

Peserta kudu berumur minimal 18 tahun, bebas penyakit menular seksual, dan memenuhi syarat kebangsaan alias keturunan dari negara nan diwakili.

Negara dengan populasi besar diperkirakan lebih kompetitif. Maka dari itu, penyelenggara juga mendorong peserta mempertimbangkan mewakili negara nan kurang terkenal agar kesempatan lolos lebih besar.

Meski terdengar nyeleneh, penyelenggara menyatakan tujuan utama aktivitas ini adalah meningkatkan kesadaran soal kesuburan pria.

"Ini tentang menjadikan kesuburan laki-laki sebagai sesuatu nan betul-betul mau dibicarakan, dilacak, dan ditingkatkan oleh orang-orang," tulis Zhu, dikutip dari NYPost.

Mereka menyoroti penurunan kualitas sperma dunia dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Data nan dikutip penyelenggara menyebut konsentrasi sperma laki-laki di bumi turun lebih dari 50 persen antara 1973 hingga 2018. Angkanya dari 101 juta menjadi 49 juta sperma per mililiter air mani.

Penurunan ini diduga berangkaian dengan obesitas, style hidup sedentari, merokok, serta paparan bahan kimia dan pestisida tertentu.

Sebelum jenis bumi digelar, kejuaraan serupa pernah dilakukan di Los Angeles pada April 2025. Saat itu dua mahasiswa berkompetisi memperebutkan bingkisan US$10 ribu alias sekitar Rp 172 juta.

Catatan tercepat diraih Tristan Mykel dari University of Southern California dengan kecepatan sperma disebut 1 menit 3 detik.

Simak Video "Video Mitos alias Fakta: Celana Dalam Ketat Menurunkan Kualitas Sperma "
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Sumber detik-health