Kesaksian Pilu Dokter Lebanon Tangani Pasien Yang Kena 'hujan Bom' Israel

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Di tengah hujan peledak nan mengguyur ibu kota Lebanon, ratusan orang berlarian menuju Rumah Sakit American University of Beirut (AUB). Suasana mencekam menyelimuti lobi rumah sakit; anak-anak menangis mencari orang tua mereka, sementara para family datang membawa foto orang tercinta, berambisi ada berita di tengah ketidakpastian antara hidup dan mati.

Serangan udara masif nan menghantam lebih dari 100 sasaran dalam waktu hanya 10 menit ini telah mengubah akomodasi medis di Beirut menjadi pusat penderitaan. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, jumlah korban tewas sekarang melonjak menjadi 303 orang, dengan lebih dari 1.150 lainnya luka-luka.

Pasien Bayi dan Balita di Ruang ICU

Salah satu kebenaran paling memilukan dari tragedi ini adalah banyaknya korban anak-anak. Dr Salah Zeineldine, Kepala Medis RS AUB, mengungkapkan bahwa dalam waktu kurang dari satu jam, mereka menerima 76 korban luka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak dari pasien kritis kami adalah anak-anak. nan tertua berumur 12 tahun, sementara dua pasien nan kudu langsung masuk ICU adalah bayi; satu berumur beberapa bulan, dan satu lagi baru berumur beberapa minggu," ujar Dr Zeineldine kepada Al Jazeera.

Luka-luka nan dialami pasien sangat mengerikan. Sebagian besar menderita patah tulang dan trauma kepala akibat tertimpa reruntuhan gedung nan runtuh terkena ledakan rudal.

Meskipun Israel mengeklaim serangan tersebut menargetkan golongan Hizbullah, para tenaga medis di lapangan memberikan kesaksian berbeda. Dr. Zeineldine menegaskan bahwa serangan tersebut sangat random dan menyasar penduduk sipil dari segala lapisan, wanita, pria, hingga lansia.

Kondisi ini membikin para master senior nan sudah terbiasa dengan bentrok merasa terguncang. Dr Antoine Zoghbi, Presiden Palang Merah Lebanon, menyebut situasi ini sebagai mimpi jelek nan tak kunjung usai.

"Ini adalah perang tanpa aturan. Perang tanpa batas. Mereka menyerang banyak wilayah secara berbarengan dan menyerang dengan keras untuk menimbulkan rasa sakit," ungkap Dr Zoghbi.

Sistem Kesehatan nan Berada di Ambang Kolaps

Krisis ini semakin memperburuk sistem kesehatan Lebanon nan sudah rentan akibat krisis ekonomi sejak 2019. Beberapa masalah krusial nan sekarang dihadapi rumah sakit di Lebanon meliputi:

  • Kelangkaan Obat: Jalur impor-ekspor nan terputus membikin stok obat-obatan menipis.
  • Krisis Energi: Rumah Sakit sangat berjuntai pada generator lantaran pemadaman listrik total, sementara nilai bahan bakar meroket akibat ketegangan global.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa stok trauma kit penyelamat nyawa di beberapa RS bisa lenyap dalam hitungan hari.

Meskipun luka bentuk dan mental begitu dalam, solidaritas rakyat Lebanon tetap menyala. Ribuan penduduk lokal maupun penduduk asing mengantre di rumah sakit untuk mendonorkan darah setelah Palang Merah Lebanon mengeluarkan panggilan darurat di media sosial.

Namun, bagi Dr Zeineldine, support medis dan bantuan hanya bakal menjadi penambal sementara selama mesin perang tetap bekerja. Baginya, solusi untuk menyelamatkan nyawa di Lebanon saat ini hanya bisa diringkas dalam tiga kata: "Hentikan perang ini."

Simak Video "Video Pasokan nan Masih Diblokir Masuk Gaza: Jarum Suntik-Alat Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Sumber detik-health