Kenapa Penyakit Ginjal Baru Ketahuan Saat Organ Sudah Nyaris Rusak? Ini Kata Ahli

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Jakarta -

Penyakit ginjal kronis alias Cronic Kidney Disease (CKD) kerap dijuluki sebagai 'silent killer'. Sebab, penyakit ini sering berkembang tanpa indikasi nan jelas saat tetap di tahap awal.

Akibatnya, banyak pasien nan baru menyadari kondisinya saat kerusakan ginjal sudah cukup parah.

Konsultan Ahli Nefrologi dan Dokter Transplantasi Ginjal di Sunway Medical Centre, Selangor, Malaysia, Dr Rosnawati Yahya, menjelaskan sebagian besar pasien datang ke master saat kegunaan ginjal telah menurun signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiga stadium pertama CKD biasanya tanpa gejala. Jika Anda menunggu gejala, Anda sudah terlambat," ucapnya nan dikutip dari The Star.

Dalam penjelasannya, penyebab utama CKD tetap didominasi kondisi metabolik seperti glukosuria dan hipertensi, nan mempengaruhi laki-laki dan wanita dalam jumlah nan relatif sama. Data dari Registrasi Dialisis dan Transplantasi Malaysia tahun 2023 menunjukkan glukosuria menyumbang 56 persen kasus kandas ginjal. Sementara tekanan hipertensi alias hipertensi kasusnya mencapai 30 persen.

Menurut Dr Rosnawati, indikasi awal CKD sering terlewat lantaran mirip keluhan umum, seperti kelelahan, perubahan hormon, alias anemia. Beberapa tanda nan perlu diwaspadai lainnya, yakni:

  • Kelelahan berkepanjangan.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Sering buang air mini di malam hari.
  • Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, alias wajah.

"Wanita sering menganggap gejala-gejala ini sebagai perihal biasa, menganggapnya sebagai stres, penuaan, alias perubahan hormon, bukan penyakit ginjal," jelas Dr Rosnawati.

Ia juga mengingatkan hasil tes darah bisa saja keliru pada wanita, jika tidak diperiksa dengan tepat.

"Karena wanita umumnya mempunyai otot nan lebih sedikit daripada pria, kadar kreatinin nan 'normal' mungkin tetap menutupi masalah ginjal tahap awal. Angka 90 mungkin baik untuk laki-laki bertubuh besar, tetapi pada wanita bertubuh mungil, itu bisa menandakan penurunan persediaan ginjal," terang dia.

Selain itu, penyakit autoimun seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) juga lebih banyak menyerang wanita, dengan rasio hingga 9:1 dibanding pria, dan kerap melibatkan gangguan ginjal.

Faktor lain nan meningkatkan akibat adalah fase kehidupan tertentu, seperti kehamilan dan menopause. Komplikasi seperti preeklampsia dan glukosuria gestasional dapat menjadi tanda masalah metabolik alias vaskular nan mendasari, serta meningkatkan akibat penyakit ginjal kronis hingga dua sampai empat kali lipat di kemudian hari.

Tak hanya itu, Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) juga disebut sebagai aspek akibat nan sering terabaikan.

"Hal ini mengenai erat dengan resistensi insulin, obesitas, dan sindrom metabolik. Ini juga dapat menyebabkan glukosuria dan tekanan hipertensi di usia muda, nan keduanya merupakan penyebab utama kerusakan ginjal seiring waktu," kata Dr Rosnawati.

Maka dari itu, Dr Rosnawati menyarankan wanita, terutama nan mempunyai aspek akibat seperti diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit autoimun, alias riwayat komplikasi kehamilan, untuk rutin melakukan pemeriksaan. Tiga tes sederhana dapat membantu penemuan dini, ialah tes darah untuk kegunaan ginjal, tes urine untuk memandang protein, serta pemeriksaan tekanan darah.

"Protein dalam urine adalah salah satu tanda awal kerusakan ginjal. Deteksi awal mengubah segalanya lantaran ada banyak pilihan pengobatan nan tersedia. Tujuan kami adalah pelestarian. Jika kita dapat mengurangi penurunan kegunaan ginjal dari 10 persen per tahun menjadi hanya 2 persen, banyak pasien mungkin tidak bakal pernah memerlukan dialisis," pungkasnya.

(sao/kna)

Sumber detik-health