Kementerian Kesehatan RI mengungkap kronologi meninggalnya dr Myta Aprilia Azmi nan ramai dikaitkan dengan beban kerja berlebih. Belakangan terungkap, nan berkepentingan berbareng peserta internship lain, tidak pernah libur saat bekerja di RSUD KH Daud Arief, Kuala Tungkal, Jambi. Masuk selama sepekan penuh.
Peserta master internship juga beberapa kali kudu menggantikan beban jaga master organik, master nan semestinya menjalani praktik di RS. Sebagai catatan, internship direkrut untuk mendapatkan pendampingan dari master organik, sebagai bekal kompetensi saat 'lulus' dari program terkait, bukan sepenuhnya menggantikan peran master organik.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan duka mendalam atas wafatnya master muda tersebut. Menyusul tiga master internship nan sebelumnya juga berpulang dan dikaitkan beban kerja tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak boleh ada master nan wafat lantaran adanya budaya kerja nan tidak baik nan dilakukan di rumah sakit," sorot Menkes Budi dalam konvensi pers Kamis (7/5/2026).
Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, Plt Inspektur Jenderal Rudi Supriatna Nata Saputra membeberkan kronologi kematian dr Myta berikut:
Agustus 2025: MCU Dinyatakan Normal
dr Myta mengikuti medical check up (MCU) sebelum menjalani internship. Hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan normal.
11 Agustus 2025 hingga Februari 2026: Jalani Internship di Puskesmas
dr Myta mulai menjalani program internship di Puskesmas Kuala Tungkal II.
Selama menjalani masa internship di puskesmas, tidak ditemukan keluhan kesehatan berarti.
"Sepanjang proses menjalani internship tersebut, master MAA tidak ada keluhan kesehatan," kata Rudi.
11 Februari 2026: Mulai Stase di RSUD KH Daud Arief
dr Myta mulai menjalani stase di RSUD KH Daud Arief, Kuala Tungkal, tepatnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Dalam sistem internship tersebut, peserta dibagi ke dalam stase IGD dan ruang rawat inap.
26 Maret 2026: Mulai Keluhkan Gejala Sakit
Dokter MAA mulai mengalami indikasi demam, batuk, dan pilek. Meski sakit, dia tetap bekerja di IGD dan melakukan pengobatan mandiri.
31 Maret 2026: Tetap Jaga Malam Meski Demam
Kondisi master MAA belum membaik. Ia tetap mengalami demam, batuk pilek, dan tetap menjalani jaga malam.
Setelah bertugas, master MAA sempat meminta dipasang infus.
Dalam investigasi disebutkan bahwa master MAA tidak melaporkan kondisinya kepada master pendamping internship.
Pada hari nan sama, peserta internship juga dipanggil untuk membahas kritik peserta terhadap sistem internship nan ditulis di media sosial dan situs pengaduan.
Salah satu kritik nan ditemukan berbunyi. "Masa kerja setiap hari, tapi master pembimbingnya tidak hadir."
13 April 2026: Rayakan Ulang Tahun dalam Kondisi Terinfus
Saat ulang tahunnya, master MAA tetap bekerja usai jaga malam dalam kondisi terpasang infus dan tetap mengalami keluhan demam serta batuk pilek.
15 April 2026: Minta Digantikan Jaga lantaran Sesak Napas
Kondisi dr Myta semakin memburuk. Ia mengirim voice note kepada rekannya untuk meminta digantikan agenda jaga.
Dalam rekaman bunyi nan diperdengarkan Kemenkes, master Myta mengatakan tidak kuat untuk datang agenda jaga.
"Nggak kuat... nggak kuat, Astri," cerita dia ke rekannya.
Tak lama kemudian, rekan master Myta menemukannya dalam kondisi linglung di bawah tangga kos.
"Yang berkepentingan ditemukan dalam kondisi linglung, hendak berangkat jaga namun atributnya tidak lengkap," beber Rudi.
dr Myta kemudian dibawa ke IGD RSUD KH Daud Arief oleh rekan-rekannya.
15-20 April 2026: Dirawat di RSUD KH Daud Arief
Dokter MAA menjalani perawatan di rumah sakit tempatnya bertugas.
Pada 20 April 2026, master penanggung jawab sempat memperbolehkan master MAA pulang. Namun setelah pulang, kondisinya kembali memburuk dengan demam tinggi dan sesak napas.
21 April 2026: Dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi
Keluarga datang dari Ogan Komering Ulu Selatan dan membawa master MAA ke RSUD Raden Mattaher Jambi menggunakan mobil pribadi dengan support oksigen pinjaman.
Menurut hasil investigasi, proses transfer tidak menggunakan ambulans maupun prosedur rujukan resmi.
21 hingga 24 April 2026: Dirawat di RSUD Raden Mattaher
dr Myta dirawat selama sekitar tiga hari di RSUD Raden Mattaher Jambi sebelum diperbolehkan pulang.
Rencananya, dr Myta dijadwalkan kontrol ke poli paru pada 29 April 2026.
24 hingga 26 April 2026: Kondisi Kembali Menurun Saat Perjalanan Pulang
Keluarga sempat membawa master MAA kembali ke Kuala Tungkal untuk melanjutkan internship. Namun master pendamping menyarankan agar dia beristirahat.
Keluarga kemudian membawa master MAA menuju Palembang dan Ogan Komering Ulu Selatan. Dalam perjalanan panjang tersebut, kondisi master MAA kembali memburuk dan mengalami demam tinggi.
27 April 2026: Masuk ICU di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
dr Myta akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin melalui prosedur resmi.
Setibanya di rumah sakit, dr Myta dirawat di ruang isolasi jangkitan sebelum dipindahkan ke ICU lantaran kondisi paru-parunya semakin berat.
"Karena ada gangguan paru, bernapasnya berat, maka perlu perangkat bantu pernapasan," ujar Rudi.
dr Myta kemudian dipasang ventilator dan menjalani perawatan intensif hingga akhirnya meninggal bumi akibat jangkitan paru berat.
Menanggapi kasus tersebut, Kemenkes menyiapkan sejumlah langkah pertimbangan dan perbaikan program internship dokter.
Beberapa kebijakan nan bakal diterapkan antara lain:
- Pembatasan jam kerja maksimal 40 jam per minggu
- Larangan master internship menggantikan master tetap
- Standarisasi remunerasi peserta internship
- Penambahan kewenangan libur menjadi 10 hari
- Pemeriksaan kesehatan berkala bagi peserta internship
Simak Video "Video: Kemenkes Ungkap Kronologi Kematian Dokter Internship Akibat Campak"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·