Kejinya Israel Rudal Lebanon Bikin Rumah Sakit Kolaps, Ratusan Nyawa Melayang

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Situasi kemanusiaan di Lebanon mencapai titik nadir setelah gelombang serangan udara Israel menghantam wilayah-wilayah padat penduduk, termasuk ibu kota Beirut. Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Lebanon, Dr. Abdinasir Abubakar, menggambarkan hari tersebut sebagai salah satu periode paling mematikan dalam eskalasi kekerasan saat ini.

Hanya dalam waktu 10 menit, ledakan demi ledakan mengguncang banyak letak di tengah hari kerja tanpa peringatan bagi penduduk sipil. Dr. Abubakar menyaksikan sendiri kengerian tersebut dari kantornya di Beirut.

"Saya bisa memandang dari jendela saya, ada 10 serangan berbeda di depan mata, dan gedung-gedung mulai runtuh," ujarnya dikutip dari laman WHO, Jumat (10/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan penilaian sementara, serangan masif ini mengakibatkan lebih dari 200 kematian dan lebih dari 1.000 orang luka-luka. Mirisnya, wanita dan anak-anak termasuk dalam daftar korban tersebut. Selain itu, situasi di lapangan semakin tragis lantaran banyak korban dilaporkan tetap terjebak di bawah reruntuhan gedung nan hancur.

Kondisi di rumah sakit pun kian memilukan. Tenaga medis mulai menerima banyak jenazah nan tidak teridentifikasi serta potongan tubuh nan ditemukan dari letak ledakan. Hal ini menunjukkan sungguh dahsyatnya daya ledak rudal nan menghantam area pemukiman penduduk tersebut.

Sistem Kesehatan di Ambang Kehancuran

Sistem kesehatan Lebanon sekarang didorong hingga ke pemisah maksimal. Unit Gawat Darurat dan jasa trauma kewalahan menangani jumlah pasien nan membludak, sementara stok pasokan medis kritis mulai habis. Situasi diperparah dengan banyaknya tenaga medis nan turut menjadi korban sejak eskalasi dimulai dengan lebih dari 50 nakes tewas dan 150 nakes luka-luka.

"Saat petugas kesehatan dan penanggap pertama terbunuh, hasilnya adalah hilangnya jasa ambulans untuk menyelamatkan nyawa," beber Dr Abubakar.

WHO berbareng kementerian kesehatan setempat terus bekerja keras menyediakan pasokan medis, namun stok nan tersedia telah terkuras lenyap hanya dalam waktu singkat akibat intensitas serangan nan luar biasa dalam 24 jam terakhir. Tantangan logistik, termasuk terbatasnya jalur transportasi ke dalam negeri, membikin pengiriman support tambahan semakin susah dilakukan.

Simak Video "Video: 1.283 Faskes Kena Serangan Konflik di Sejumlah Negara Sepanjang 2025"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Sumber detik-health