Iron Lucky Fish: Ikan Besi Untuk Bantu Cegah Anemia, Benarkah Efektif?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Bayangkan sedang memasak sup, lampau masukkan sebuah "ikan" mini ke dalam panci. Bukan ikan sungguhan, melainkan potongan besi. Di beberapa wilayah seperti Kamboja, langkah ini digunakan sebagai pendekatan sederhana untuk membantu meningkatkan asupan unsur besi dari makanan sehari-hari.

"Ikan besi" ini dikenal sebagai Lucky Iron Fish, sebuah penemuan nan dirancang untuk membantu mengatasi kekurangan unsur besi dengan langkah direbus berbareng makanan alias air.

Namun, seberapa efektif metode ini dalam membantu mencegah anemia? Apakah betul bisa menjadi solusi praktis, alias justru mempunyai keterbatasan tertentu?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Iron Lucky Fish dan Mengapa Berbentuk Ikan?

Lucky Iron Fish adalah perangkat berbahan besi nan digunakan saat memasak untuk membantu meningkatkan kandungan unsur besi dalam makanan alias air. Alat ini umumnya dibuat dari besi murni alias besi dengan kemurnian tinggi nan kondusif untuk kontak dengan makanan (food-grade), serupa dengan bahan pada peralatan masak berbahan besi nan telah lama digunakan.

Cara penggunaannya cukup sederhana. "Ikan" mini ini dimasukkan ke dalam air, sup, alias masakan berkuah saat proses memasak, sehingga sebagian unsur besi dari logam tersebut dapat larut dan ikut terkonsumsi.

Konsep ini sebenarnya bukan perihal nan sepenuhnya baru. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa memasak menggunakan peralatan berbahan besi, seperti panci alias wajan besi, dapat meningkatkan kadar unsur besi dalam makanan, terutama pada hidangan berkuah alias nan berkarakter asam.

Hal ini dibahas dalam beragam studi, salah satunya ulasan ilmiah di Journal of Food Science, nan menjelaskan bahwa unsur besi dari permukaan logam dapat larut ke dalam makanan selama proses memasak. Prinsip inilah nan kemudian dikembangkan menjadi corak nan lebih praktis dan terstandarisasi.

Inovasi ini pertama kali dikembangkan dan diperkenalkan di Kamboja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat untuk mengatasi tingginya kasus anemia, khususnya anemia defisiensi besi. Pendekatan ini lahir dari penelitian lapangan nan mencari solusi sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan di masyarakat.

Menariknya, corak perangkat ini tidak dibuat secara acak. Di Kamboja, ikan dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kesehatan, sehingga kreasi ini membantu meningkatkan penerimaan masyarakat dibandingkan potongan besi biasa. Pendekatan ini menunjukkan bahwa solusi kesehatan sederhana nan memadukan sains dan budaya lokal dapat lebih mudah diterapkan dan berpotensi memberikan faedah nyata.

Bagaimana Cara Kerjanya: Benarkah Bisa Menambah Zat Besi?

Prinsip kerja Lucky Iron Fish sebenarnya cukup sederhana. Saat dimasukkan ke dalam air alias masakan berkuah, sebagian mini unsur besi dari permukaan logam bakal larut ke dalam cairan, terutama selama proses pemanasan.

Proses ini dapat berjalan lebih optimal jika makanan nan dimasak mengandung cairan dan sedikit asam, misalnya dari perasan jeruk nipis alias tomat. Keasaman membantu melepaskan unsur besi dari logam, sehingga jumlah unsur besi nan larut ke dalam makanan bisa meningkat.

Hal ini juga dijelaskan dalam beragam publikasi ilmiah nan tersedia melalui National Institutes of Health (NIH), nan menunjukkan bahwa kondisi memasak, seperti suhu, waktu, dan tingkat keasaman, dapat memengaruhi jumlah unsur besi nan beranjak ke makanan.

Zat besi nan dilepaskan dari perangkat ini termasuk dalam corak non-heme, ialah jenis unsur besi nan juga banyak ditemukan pada sumber nabati. Meski penyerapannya di dalam tubuh tidak seefisien unsur besi heme (dari daging), penyerapan unsur besi non-heme dapat ditingkatkan dengan kehadiran vitamin C. Karena itu, penggunaan bahan masam tidak hanya membantu proses pelepasan unsur besi saat memasak, tetapi juga berkedudukan dalam meningkatkan penyerapannya di dalam tubuh.

Secara ilmiah, pelepasan unsur besi dari logam selama proses memasak telah lama dibahas dalam studi tentang peralatan masak berbahan besi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aspek seperti tingkat keasaman (pH), suhu, dan lama memasak dapat memengaruhi jumlah unsur besi nan larut ke dalam makanan.

Makanan nan lebih asam, misalnya dengan pH di bawah 4,5 seperti tomat alias air jeruk, diketahui dapat meningkatkan pelepasan unsur besi secara signifikan dibandingkan kondisi netral. Selain itu, waktu memasak juga berperan: semakin lama proses pemanasan berlangsung, semakin banyak unsur besi nan dapat beranjak ke makanan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa dalam lama sekitar 10 menit pelepasan unsur besi sudah mulai terjadi, dan dapat meningkat lebih jauh dengan waktu memasak nan lebih lama, sebagaimana dibahas dalam publikasi ilmiah di Journal of Food Science dan database National Institutes of Health (NIH).

Sementara itu, pada penggunaan Lucky Iron Fish, penelitian lebih banyak menilai dampaknya dalam kondisi penggunaan sehari-hari. Dikutip dari jurnal Tropical Medicine & Surgery, perangkat ini digunakan dengan langkah direbus dalam air selama sekitar 10 menit, biasanya dengan tambahan sedikit bahan masam seperti lemon.

Dengan kata lain, perangkat ini tidak "menambahkan" unsur besi secara instan dalam jumlah besar, melainkan membantu meningkatkan asupan unsur besi secara berjenjang melalui makanan sehari-hari. Efektivitasnya pun sangat berjuntai pada langkah penggunaan, jenis makanan, serta pola makan secara keseluruhan.

Setelah memahami langkah kerjanya, pertanyaan berikutnya adalah: apakah metode ini betul-betul efektif dalam membantu mengatasi kekurangan unsur besi?

Dikutip dari jurnal Tropical Medicine & Surgery, penggunaan Lucky Iron Fish secara rutin selama 12 bulan menunjukkan hasil nan cukup jelas. Jumlah orang nan mengalami anemia di golongan pengguna turun dari sekitar 56,7% menjadi 11,0%. Selain itu, kadar hemoglobin, ialah protein dalam darah nan berfaedah membawa oksigen, juga meningkat sekitar 11,8 g/L (sekitar 1,2 g/dL) dibandingkan golongan nan tidak menggunakan perangkat ini.

Tidak hanya itu, persediaan unsur besi dalam tubuh, nan diukur melalui kadar ferritin, juga ikut meningkat. Ini menunjukkan bahwa unsur besi nan dilepaskan selama proses memasak tidak hanya masuk ke dalam makanan, tetapi juga betul-betul diserap dan disimpan oleh tubuh.

Meski begitu, hasil ini tetap perlu dilihat secara menyeluruh. Manfaat Lucky Iron Fish sangat berjuntai pada seberapa rutin perangkat ini digunakan serta pola makan sehari-hari. Artinya, perangkat ini bisa membantu menambah asupan unsur besi, tetapi bukan satu-satunya solusi, terutama untuk kondisi anemia nan lebih berat alias memerlukan penanganan medis.

Siapa nan Cocok Menggunakan dan Seberapa Aman?

Lucky Iron Fish pada dasarnya ditujukan untuk membantu orang nan berisiko kekurangan unsur besi, terutama mereka nan susah mendapatkan asupan unsur besi dari makanan sehari-hari. Misalnya, golongan dengan pola makan rendah sumber unsur besi alias nan tinggal di wilayah dengan akses terbatas terhadap suplemen.

Alat ini relatif kondusif digunakan selama mengikuti petunjuk pemakaian. Dalam penelitian nan sama, tidak dilaporkan adanya pengaruh samping nan berfaedah dari penggunaan iron fish dalam jangka waktu 12 bulan. Hal ini lantaran unsur besi dilepaskan secara perlahan selama proses memasak, sehingga tidak langsung masuk dalam jumlah besar seperti pada konsumsi suplemen.

Namun, tetap ada beberapa perihal nan perlu diperhatikan. Penggunaan kudu disertai dengan langkah perawatan nan benar, seperti membersihkan dan mengeringkan perangkat setelah dipakai untuk mencegah karat berlebih.

Selain itu, perangkat ini tidak disarankan untuk digunakan sebagai satu-satunya penanganan pada kondisi Anemia Defisiensi Besi nan sudah berat, lantaran kondisi tersebut biasanya memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

Dengan kata lain, Lucky Iron Fish bisa menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu menambah asupan unsur besi dari makanan sehari-hari. Namun, tetap krusial untuk menjaga pola makan seimbang dan, jika perlu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk penanganan nan lebih tepat.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Sumber detik-health