Inikah Yang Bikin Tempe Mendunia?

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Jakarta -

Tempe bukan sekadar lauk sehari-hari di meja makan masyarakat Indonesia. Di beragam bagian dunia, makanan berbahan dasar kedelai ini semakin dilirik sebagai simbol pangan berkelanjutan, kaya gizi, dan sarat nilai budaya.

Dari dapur rumahan hingga restoran modern di kota-kota global, tempe perlahan menembus pemisah geografis, membawa cerita tentang tradisi, inovasi, dan masa depan pangan.

Dari Makanan "Sederhana" Jadi Produk Eksotis di Mata Dunia

Selama bertahun-tahun, tempe kerap dipandang sebagai makanan "biasa" di Indonesia-murah, mudah ditemukan, apalagi tak jarang dianggap sebagai lauk kelas dua. Namun, perspektif ini justru berbanding terbalik dengan langkah bumi memandang tempe saat ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pegiat fermentasi pangan, Wida Winarno, mengungkapkan bahwa perubahan persepsi ini tidak terjadi secara instan. Ia menceritakan gimana di awal aktivitas promosi tempe, tetap banyak masyarakat nan belum menyadari nilai dari makanan fermentasi unik Indonesia tersebut.

"Di kalangan masyarakat itu tempe seperti sesuatu nan direndahkan... orang-orang menganggap ini sesuatu nan murah, kelas dua. Tapi setelah 10 tahun, kita memandang di luar negeri tempe sangat diapresiasi. Kalau di Indonesia harganya murah, di sana mahal, jadi seperti produk eksotis," jelasnya, ditemui di Jakarta Selatan baru-baru ini.

Perubahan persepsi ini juga tercermin dalam info global. Dikutip dari Grand View Research, nilai pasar tempe bumi mencapai sekitar US$ 5,1 miliar pada 2023 dan diproyeksikan tumbuh menjadi US $7,6 miliar pada 2030, dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 5-6 persen.

Temuan lain menunjukkan tren serupa. Dikutip dari laporan nan dipublikasikan melalui GlobeNewswire, nilai pasar tempe dunia berada di kisaran US$ 4,7 miliar pada 2024 dan diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya minat terhadap pola makan berbasis nabati (plant-based diet), serta kesadaran dunia bakal pentingnya pangan nan lebih sehat dan berkelanjutan, sebagaimana dilaporkan oleh Global Market Insights.

Tak heran jika sekarang tempe telah diproduksi di beragam negara seperti Amerika Serikat, Belanda, hingga Jepang. Di pasar internasional, tempe tidak lagi sekadar makanan tradisional, tetapi telah naik kelas menjadi produk protein nabati premium dengan nilai jual nan jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan adanya "ironi nilai": ketika tempe dianggap biasa di negeri asalnya, justru di pasar dunia dia diposisikan sebagai produk unik dan berbobot tinggi. Dari sekadar lauk rumahan, tempe sekarang menjelma menjadi simbol pangan lokal nan mempunyai daya tarik global.

Tempe dan Tren Plant-Based: Sumber Protein nan Dicari Dunia

Meningkatnya ketenaran tempe di pasar dunia tidak bisa dilepaskan dari tren pola makan berbasis nabati (plant-based diet) nan terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Semakin banyak orang di beragam negara mulai mengurangi konsumsi produk hewani dan beranjak ke sumber protein pengganti nan dinilai lebih sehat sekaligus ramah lingkungan.

Dalam konteks ini, tempe menjadi salah satu pilihan nan menonjol. Berbeda dengan banyak produk plant-based modern nan melalui proses tinggi, tempe justru datang sebagai pangan tradisional dengan proses fermentasi alami nan relatif sederhana.

Wida menjelaskan bahwa daya tarik tempe di mata bumi bukan hanya lantaran asal-usulnya nan unik, tetapi juga lantaran fungsinya nan relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini.

"Tempe ini sangat dicari-cari oleh mereka nan tidak mengonsumsi produk hewani. Dari tempe, mereka bisa mendapatkan protein, vitamin B12, dan juga rasa kenyang," jelasnya.

Secara ilmiah, tempe memang dikenal sebagai sumber protein nabati berkualitas. Sebagaimana tercantum dalam info United States Department of Agriculture, tempe memang dikenal sebagai sumber protein nabati berkualitas. Dalam 100 gram tempe terkandung sekitar 19 gram protein, menjadikannya salah satu pengganti protein nan cukup tinggi dibandingkan sumber nabati lainnya.

Selain itu, proses fermentasi oleh kapang seperti Rhizopus oligosporus juga membantu meningkatkan kecernaan protein serta membikin nutrisi lebih mudah diserap tubuh.
Keunggulan lain nan jarang disorot adalah kemampuannya memberikan rasa kenyang. Berbeda dengan produk fermentasi lain seperti kecap nan dikonsumsi dalam jumlah kecil, tempe dapat dikonsumsi sebagai lauk utama dalam porsi besar, sehingga berfaedah sebagai sumber daya sekaligus protein.

Di tengah meningkatnya kesadaran dunia terhadap kesehatan dan keberlanjutan, tempe pun berada di posisi nan unik: bukan hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai solusi. Ia menjembatani kebutuhan bakal makanan bergizi, alami, dan tetap terjangkau, kombinasi nan semakin dicari oleh konsumen bumi saat ini.

Masa Depan Tempe: Pangan Lokal nan Siap Mendunia

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap rumor kesehatan dan lingkungan, tempe dinilai mempunyai kesempatan besar untuk menjadi bagian dari sistem pangan masa depan. Tidak hanya lantaran kandungan gizinya, tetapi juga lantaran langkah produksinya nan relatif sederhana dan lebih ramah lingkungan dibandingkan banyak sumber protein lainnya.

Wida menyoroti bahwa tren ini tidak datang secara kebetulan. Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat bumi menjadi aspek utama nan mendorong tempe semakin relevan.

"Dengan perkembangan plant-based food, orang-orang semakin peduli pada lingkungan dan mulai mencari produk nan betul-betul berasal dari tumbuhan, bukan hasil rekayasa. Tempe ini dari bahan alami, prosesnya sederhana, dan tidak ada penambahan senyawa berbahaya. Saya rasa ke depan tempe tetap bakal jaya," ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan beragam laporan internasional nan menunjukkan bahwa sistem pangan dunia tengah bergerak menuju sumber protein nan lebih berkelanjutan. Produksi protein nabati umumnya menghasilkan emisi gas rumah kaca nan lebih rendah serta memerlukan sumber daya nan lebih sedikit dibandingkan protein hewani, sebuah aspek krusial di tengah krisis suasana nan semakin nyata.

Tempe berada di posisi strategis dalam perubahan ini. Sebagai produk fermentasi berbasis kedelai, tempe tidak hanya menawarkan kandungan protein nan tinggi, tetapi juga proses produksi nan relatif efisien dan dapat dikembangkan dalam skala mini hingga industri.

Menariknya, nilai tempe di mata bumi tidak hanya terletak pada aspek gizi dan keberlanjutan, tetapi juga pada keasliannya. Di saat banyak produk plant-based modern datang sebagai hasil penemuan teknologi pangan, tempe justru menawarkan sesuatu nan berbeda: makanan tradisional nan telah teruji waktu, namun tetap relevan dengan kebutuhan masa kini.

Dengan kombinasi tersebut-alami, bergizi, dan berkelanjutan-tempe mempunyai kesempatan besar untuk terus berkembang di pasar global. Dari dapur sederhana di Indonesia, tempe sekarang melangkah lebih jauh sebagai bagian dari solusi pangan dunia.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Sumber detik-health