Jakarta -
Para intelektual lama berasumsi alam semesta bakal terus ada hingga triliunan tahun ke depan. Namun sebuah studi baru menunjukkan perkiraan usia nan jauh lebih pendek, alam semesta mungkin hanya bakal memperkuat selama 33 miliar tahun lagi.
Waktu tersebut hanyalah sekejap mata dalam skala kosmik sebelum segalanya runtuh ke dalam dirinya sendiri, proses nan dijuluki "Big Crunch" (Pengerutan Besar), di mana ekspansi berbalik arah, menyebabkan seluruh materi dan ruang waktu runtuh kembali menjadi keadaan sangat padat, mirip dengan kondisi saat Big Bang.
Dikutip detikINET dari Live Science, meski teori itu sudah lama dikesampingkan lantaran ekspansi kosmik nan semakin cepat, penelitian baru kembali membuka skenario mengejutkan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan menuju konklusi ini berasal dari upaya memetakan kosmos, di mana konsentrasi utamanya tertuju pada daya gelap (dark energy), kekuatan misterius nan mendorong alam semesta terus meluas dengan laju kian cepat. Data baru Dark Energy Survey (DES) dan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) memetakan ratusan juta galaksi untuk menyelidiki ekspansi ini.
Instrumen-instrumen ini menunjukkan dengan tingkat kepercayaan sangat tinggi, bahwa ekspansi alam semesta bukanlah nomor nan statis. Pengaruhnya tampak berubah seiring berjalannya waktu. Maka di masa depan alam semesta nan sangat jauh, ada kemungkinan alam semesta kembali menyatu, nan memicu Big Crunch tersebut.
Dengan menggunakan model nan paling sesuai dengan hasil pengamatan dan menjalankan simulasinya ke masa depan, para peneliti sukses menghitung momen pasti dari kehancuran kosmik ini ialah 33,3 miliar tahun dari sekarang.
Masa depan nan secara dramatis jauh lebih singkat ini sangat bertolak belakang dengan perkiraan usia triliunan tahun nan selama ini sering diyakini. Alih-alih terus membentang akibat ekspansi kosmik layaknya jalan raya nan sunyi dan abadi, alam semesta justru bakal melakukan "putar balik" nan membawa kembali ke titik awal perjalanan.
"Selama 20 tahun terakhir, orang-orang percaya bahwa konstanta kosmologis berbobot positif dan alam semesta bakal mengembang selamanya. Data terbaru tampaknya menunjukkan konstanta kosmologis berbobot negatif dan bahwa alam semesta bakal berhujung dalam Big Crunch," kata Henry Tye, Profesor Emeritus Fisika di College of Arts and Sciences, Cornell University.
Ini adalah ranah penemuan baru dan meski bukti nan ada cukup meyakinkan, tetap ada beragam catatan dan pertanyaan. Lebih banyak info diperlukan untuk menguji kebenaran model ini secara ketat. Terlebih kosmos adalah entitas nan sangat rumit dan pemahaman kita terus berevolusi.
(fyk/fay)
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·