Hrd Bongkar Penyebab Perusahaan Kini Ogah-ogahan Terima Karyawan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Dunia upaya tengah menghadapi tantangan serius nan berakibat pada penyerapan tenaga kerja. Kondisi ini tercermin dari banyaknya perusahaan nan memilih untuk menahan laju rekrutmen pegawai baru demi menjaga operasional upaya tetap melangkah stabil.

Praktisi HR dan Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza, menjelaskan secara umum terdapat tiga kategori rekrutmen nan dilakukan HRD, ialah replacement alias merekrut tenaga kerja baru lantaran ada tenaga kerja nan keluar, membuka lowongan kerja baru lantaran ekspansi bisnis, alias membuka lowongan lantaran investasi baru.

Dalam perihal ini, menurutnya penahanan laju rekrutmen pegawai baru paling terlihat pada kategori kedua, ialah membuka lowongan untuk ekspansi bisnis. Sebab, Ivan sendiri memandang banyak perusahaan nan proses rekrutmennya dia bantu sedang menahan laju ekspansi lantaran beragam faktor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai contoh, dia mengatakan salah satu kliennya nan bergerak di industri produksi kaca sedang berencana menurunkan jumlah lowongan nan dibuka lantaran adanya kenaikan biaya operasional.

"Nah, kaca itu kan perlu gas untuk peleburan ya. Dia sudah tanda tangan perjanjian nilai gasnya Rp 6 ribu per kilogram, sekarang naik jadi Rp 9 ribu, itu kan sudah naik 50%. Tadinya dia mau merekrut 2.000 orang, kemarin obrolan sama saya, 'kayaknya kita mau koreksi, nggak tahu jadi berapa, tapi sepertinya nggak bakal 2.000'. Nah nan seperti ini," jelasnya kepada detikcom, ditulis Jumat (24/4/2026).

Kondisi serupa juga dia temui di sejumlah perusahaan lain nan bergerak di industri kendaraan listrik. Di mana perusahaan nan awalnya berencana untuk merekrut lebih banyak pekerja, sekarang malah menahan laju rekrutmen lantaran adanya perubahan izin mengenai insentif kendaraan listrik.

"Dia mau merekrut, tadinya total 5.000. Itu komitmen dan segala macam tetap jalan sampai pemerintah mengubah insentif untuk mobil listrik. Itu kan berpengaruh ke minat orang untuk membeli. Jadi sudah mau rekrut 5.000, begitu ada perubahan, nggak jadi, sekarang sekian ribu dulu," tutur Ivan.

Atas dasar inilah dia beranggapan ketidakpastian izin bagi bumi upaya menjadi salah satu pertimbangan menahan ekspansi bisnis, nan kemudian berakibat pada pasar tenaga kerja domestik. Ditambah dengan ketidakpastian ekonomi dan kondisi global, semakin besar kesempatan penanammodal untuk menahan laju ekspansi.

Sehingga menurutnya krusial bagi pemerintah untuk menunjukkan niat baik dan memberikan kepastian usaha, jika mau perusahaan-perusahaan tetap melakukan ekspansi dan menyerap tenaga kerja baru.

"Supaya kebutuhan tiga gelombang tadi-mengganti karyawan, ekspansi, dan investasi baru-tidak dikoreksi alias dikurangi," ujarnya.

Apa nan Bisa Dilakukan Pencari Kerja?

Ivan mengatakan dalam kondisi pelemahan laju rekrutmen tenaga kerja baru, para pencari kerja mau tak mau kudu terus mencoba melamar ke beragam perusahaan sampai ada nan menerima.

Namun, dia sangat menyarankan agar di waktu nan berbarengan pelamar melakukan pekerjaan sampingan sampai mendapatkan pekerjaan tetap. Menurutnya, tidak masalah jika pekerjaan nan dilakukan berada di sektor informal.

"Apalagi fresh graduate, biasanya paling susah dari sisi mindset. 'Ngapain capek-capek kuliah elektro ITB jadi cleaning service', misalnya. Tapi jika bicara kebutuhan, sektor informal itu tidak pernah berkurang," terangnya.

Selain itu, menurutnya dengan mempunyai pengalaman kerja sampingan meski tidak sesuai dengan bagian pendidikan, perihal ini tetap bisa menjadi nilai tambah saat melamar ke perusahaan.

Sebab selama bisa dijelaskan dengan baik kepada pemberi kerja, sikap seperti ini dinilai sebagai keahlian pelamar untuk memperkuat dalam beragam kondisi dan situasi, namalain mempunyai keahlian penyesuaian nan tinggi.

"Itu nilai tambah. Itu namanya SQ, survival quotient. Orang itu diukur dengan beragam indikator, salah satunya keahlian untuk bertahan. Nah, makin tinggi itu, makin bagus nilainya," tegas Ivan.

"Kalau mau lebih teknis, saya jika kudu melakukan layoff karyawan, nan saya pikirkan bukan nan keluar, tapi nan tetap di dalam. Karena nan keluar sudah selesai urusannya. nan di dalam, beban kerjanya bertambah, jadi kudu orang nan dari awal bisa bertahan," pungkasnya.

(igo/fdl)

Sumber finance