Tren kopi susu gula aren beberapa tahun terakhir ikut membentuk persepsi bahwa gula aren adalah pilihan nan "lebih sehat" dibanding gula pasir. Banyak orang merasa lebih kondusif mengonsumsinya, apalagi condong tidak sadar bahwa jumlah nan dikonsumsi bisa jadi lebih banyak lantaran label "alami" nan melekat.
Tapi, benarkah gula aren memang lebih baik untuk kesehatan? Atau sebenarnya, dari sisi pengaruh ke tubuh, terutama gula darah, keduanya tidak jauh berbeda?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa Gula Aren Dianggap Lebih Sehat?
Anggapan bahwa gula aren lebih sehat dibanding gula pasir tidak muncul begitu saja. Ada beberapa aspek nan membentuk persepsi ini, mulai dari proses produksi hingga tren minuman kekinian.
Pertama, gula aren sering dianggap lebih "alami" lantaran berasal dari nira dan melalui proses sederhana tanpa rafinasi seperti gula pasir. Citra alami ini kerap diasosiasikan dengan pilihan nan lebih sehat, meski tidak selalu demikian dari sisi nutrisi.
Kedua, gula aren memang mengandung sedikit mineral seperti kalium, magnesium, dan unsur besi. Namun, jumlahnya sangat mini dan tidak cukup signifikan untuk memberikan faedah kesehatan dalam konsumsi wajar.
Ketiga, tren minuman seperti kopi susu gula aren ikut memperkuat persepsi ini. Label "lebih sehat" alias "lebih aman" membikin banyak orang tanpa sadar mengonsumsi gula dalam jumlah lebih banyak.
Padahal, terlepas dari perbedaan proses dan kandungan minor tersebut, gula aren tetap termasuk gula tambahan nan memberikan kalori tanpa banyak unsur gizi penting. Inilah nan sering luput dipahami, bahwa gambaran "alami" tidak selalu sejalan dengan dampaknya bagi tubuh, terutama jika dikonsumsi berlebihan.
Gula Aren vs Gula Pasir
Jika dilihat sekilas, gula aren memang tampak "lebih unggul". Namun ketika ditelusuri dari sisi komposisi dan dampaknya terhadap gula darah, perbedaannya tidak selalu sebesar nan dibayangkan.
Secara komposisi, baik gula aren maupun gula pasir sama-sama didominasi oleh gula sederhana, terutama sukrosa. Data dari United States Department of Agriculture menunjukkan bahwa gula pasir nyaris seluruhnya terdiri dari karbohidrat, ialah sekitar 100 gram per 100 gram, dengan kandungan sukrosa mendekati murni dan daya sekitar 364-387 kkal.
Sementara itu, berasas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), gula aren mengandung sekitar 368 kkal energi dan 91 gram karbohidrat per 100 gram. Artinya, meski tidak semurni gula pasir, komposisinya tetap didominasi oleh gula sederhana nan bakal dipecah menjadi glukosa dalam tubuh.
Perbedaan mulai terlihat pada kandungan mikronutrien. Data TKPI mencatat bahwa gula aren mengandung sekitar 75 mg kalsium, 35 mg fosfor, dan 3 mg unsur besi per 100 gram, sementara gula pasir nyaris tidak menyumbang mineral (kalsium ±1 mg dan unsur besi 0 mg menurut USDA).
Namun, jumlah ini perlu dilihat dalam konteks. Dengan konsumsi gula nan umumnya hanya 1-2 sendok makan, kontribusi mineral tersebut menjadi sangat mini dan tidak cukup signifikan untuk memberikan faedah kesehatan.
Bagaimana dengan Indeks Glikemik (IG)?
Berdasarkan info dari Sydney University Glycemic Index Research Service, gula pasir (sukrosa) mempunyai indeks glikemik sekitar 65 (kategori sedang). Sementara itu, gula berbasis palma seperti gula aren dilaporkan mempunyai nilai nan lebih bervariasi, umumnya berada di kisaran 35-54, tergantung jenis dan proses pengolahannya.
Meski terlihat lebih rendah, perbedaan ini tidak selalu signifikan dalam praktik. Nilai IG gula aren tidak tunggal dan bisa berbeda antar produk, sehingga tidak semua gula aren otomatis tergolong "rendah IG". Selain itu, dalam jumlah konsumsi nan sama, keduanya tetap dapat meningkatkan gula darah.
Tak hanya itu, World Health Organization menegaskan bahwa semua jenis gula tambahan (tanpa membedakan sumbernya), tetap perlu dibatasi. Asupan gula dianjurkan tidak melampaui 10% dari total daya harian, apalagi lebih baik jika di bawah 5%.
Artinya, perbedaan antara gula aren dan gula pasir lebih berkarakter relatif, bukan perubahan besar. Dalam praktik sehari-hari misalnya pada minuman manis seperti kopi susu, jumlah gula nan ditambahkan sering kali jauh lebih berpengaruh dibanding jenis gulanya.
Jadi, meskipun gula aren terlihat mempunyai kandungan mineral dan indeks glikemik nan sedikit lebih baik, secara keseluruhan keduanya tetap memberikan pengaruh nan mirip terhadap tubuh, terutama jika dikonsumsi berlebihan.
Lebih Sehat alias Sekadar Terasa Aman?
Pada akhirnya, baik gula aren maupun gula pasir tetap termasuk gula tambahan. Jadi, kunci utamanya bukan hanya memilih jenis gula, tapi mengontrol jumlah nan dikonsumsi.
Ada beberapa langkah nan lebih teknis dan praktis untuk mengontrol asupan gula dalam keseharian:
1. Gunakan "aturan sendok", bukan sekadar persen
Daripada menghitung persen kalori, lebih mudah pakai pendekatan sederhana:
- 1 sendok makan gula ≈ 12-15 gram
- Dalam sehari, usahakan tidak lebih dari 2-3 sendok makan total dari semua sumber
Masalahnya, minuman seperti kopi susu bisa mengandung 2-4 sendok makan gula dalam satu gelas, sering kali tanpa disadari.
2. Hitung dari minuman dulu (sumber terbesar)
Secara praktis, kontribusi gula terbesar biasanya bukan dari makanan, tapi dari minuman manis seperti, kopi susu gula aren, teh manis, dan minuman kemasan. Mengurangi gula dari minuman saja sudah bisa memangkas sebagian besar asupan gula harian.
3. Perhatikan "gula tersembunyi"
Gula tidak selalu terlihat jelas. Beberapa sumber nan sering tidak disadari (hidden sugar) seperti saus dan kecap, minuman botol "sehat", yogurt berperisa, dan sereal. Di label, gula bisa muncul dengan beragam nama (sukrosa, glukosa, sirup, dan lainnya), tapi efeknya tetap sama bagi tubuh.
4. Jangan terkecoh label "lebih alami"
Mengganti gula pasir dengan gula aren memang boleh saja, tapi bukan berfaedah bisa dikonsumsi lebih banyak. Baik gula aren maupun gula pasir tetap tinggi kalori, relatif sigap diserap dan dapat meningkatkan gula darah jika dikonsumsi berlebihan.
5. Fokus pada frekuensi, bukan hanya jumlah
Selain jumlah harian, pola konsumsi juga penting. Minum manis sedikit tapi sering tetap dapat membebani gula darah, sehingga frekuensinya perlu dibatasi.
Pada akhirnya, meski ada perbedaan, gula aren dan gula pasir tidak cukup berbeda untuk jadi argumen konsumsi berlebih. Label "lebih sehat" justru bisa menciptakan rasa kondusif semu.
Jadi, bukan soal memilih gula nan "lebih baik", melainkan membatasi asupan gula secara keseluruhan.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Waspadai Ancaman Gula
5 Konten
Ancaman gula berlebih dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa diremehkan. Baik nan tidak disadari keberadaannya, disadari tapi tak dipedulikan, maupun nan sudah ternormalisasi. Dampaknya fatal, bisa memicu diabetes: mother of all diseases.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·