Jakarta -
Sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) diduga melakukan pelecehan seksual secara verbal. Tindakan tidak layak itu dilakukan melalui obrolan grup chat WhastApp.
Praktisi HR dan Konsultan Sumber Daya Manusia (SDM), Audi Lumbantoruan mengatakan pelaku nan terlibat kasus tersebut bisa berpengaruh dalam mendapatkan kesempatan kerja. Meskipun kesempatan tetap tetap ada.
"Kasus UI jadi pertimbangan besar buat perusahaan alias organisasi mempertimbangkan kandidat nan terjerat kasus tersebut. Masalah ini kan sudah masuk ranah hukum, reputasi pasti kena dampaknya," kata Audi kepada detikcom, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Audi menyebut di era saat ini perusahaan alias organisasi bakal menghindari akibat untuk merekrut calon tenaga kerja nan pernah terjerat kejahatan di masa lalu. Oleh lantaran itu, membangun kepercayaan dan reputasi sangatlah krusial bagi calon pelamar.
"Peluang tetap ada tetapi agak berat ya, bukan berfaedah nggak bisa dapat kerja. Itu bakal memerlukan lebih banyak waktu dan upaya pastinya. Perusahaan alias organisasi bakal menghindari akibat merekrut calon pegawai nan mempunyai masa lampau nan terjerat kejahatan," ucap Audi.
Senada, Praktisi HR dan Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI) Ivan Taufiza juga berbicara demikian. Hanya saja seberapa besar pengaruh mendapatkan kerja bagi pelaku pelecehan seksual, tergantung keputusan akhir UI.
"Pengaruhnya ada alias tidak, sudah pasti ada. nan perlu dilihat posisi alias kejelasan dari institusi. UI dalam perihal ini, itu keputusannya seperti apa. Contoh jika semua berdamai, ya nggak masalah juga secara prinsip. Kalau output-nya berbeda, misalnya ribut segala macam, ya otomatis berbeda, apalagi ada putusan norma dan seterusnya," jelas Ivan.
Ivan tidak menampik jika perusahaan bakal melacak jejak digital calon tenaga kerja dalam rekrutmen. Tahapan itu dilakukan secara general mulai dari level atas hingga bawah.
"Posisi-posisi tertentu itu apalagi dari awal sekali sudah diseleksi, sudah dicek, sudah diperiksa. Kalau level dewan ke atas, itu sudah pasti. Manager level ke atas, itu pasti dicek apakah dia pernah berperkara alias enggak," tutur Ivan.
"Untuk posisi-posisi di lapangan, operator di pabrik dicek apakah dia sebelumnya terlibat di serikat pekerja secara aktif, alias pernah demo anarkis, hal-hal kayak gitu dilakukan. Sales juga dicek lantaran ada rumor integritas, jualannya betul nggak sih alias mis-selling," tambahnya.
(aid/fdl)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·