CNN Indonesia
Senin, 15 Jun 2026 10:30 WIB
Ilustrasi. Keinginan orang tua melindungi anak adalah perihal wajar. Namun jangan sampai mengarah pada helicopter parenting. Apa itu? (Pexels)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setiap orang tua tentu mau memberikan perlindungan terbaik bagi anaknya. Namun, ketika dilakukan berlebihan justru niat baik ini menghalang proses tumbuh kembang anak. Fenomena ini dikenal dengan istilah helicopter parenting. Apa itu?
Tidak sedikit orang tua nan merasa perlu mengawasi, mengarahkan, apalagi menyelesaikan masalah anak demi memastikan mereka terhindar dari kegagalan. Padahal, anak juga memerlukan ruang untuk belajar, mencoba, dan menghadapi akibat dari pilihannya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Familiar dengan kejadian tersebut? Dalam bumi pengasuhan dikenal istilah helicopter parenting.
Apa itu helicopter parenting?
Dikutip dari International School Parent, helicopter parenting adalah style pengasuhan nan ditandai dengan keterlibatan orang tua nan sangat tinggi, apalagi condong berlebihan, dalam kehidupan anak. Istilah ini menggambarkan orang tua nan terus "mengitari" anak layaknya helikopter, selalu siap turun tangan ketika muncul masalah alias tantangan.
Pada dasarnya, perhatian dan pendampingan orang tua merupakan perihal nan positif. Namun, helicopter parenting terjadi ketika keterlibatan tersebut berubah menjadi kontrol nan berlebihan, perlindungan nan terlalu ketat, dan kemauan untuk memastikan segala sesuatu melangkah sempurna bagi anak.
Orang tua dengan pola asuh ini biasanya susah membiarkan anak mengambil keputusan sendiri. Mereka sering kali mengatur beragam aspek kehidupan anak, mulai dari memilih teman, aktivitas ekstrakurikuler, hingga membantu menyelesaikan tugas sekolah secara berlebihan.
Ketika anak menghadapi bentrok alias kesulitan, orang tua condong langsung turun tangan daripada membiarkan anak belajar menyelesaikannya sendiri. Perlu dipahami bahwa membantu anak bukanlah masalah.
Dampak helicopter parenting
Meskipun sering dilakukan atas dasar kasih sayang, beragam penelitian menunjukkan bahwa akibat jangka panjang helicopter parenting dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam beragam aspek kehidupan.
1. Menghambat keahlian mengambil keputusan
Anak nan terbiasa diarahkan dalam setiap situasi mempunyai kesempatan nan lebih sedikit untuk belajar membikin keputusan sendiri. Akibatnya, keahlian berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil pilihan secara berdikari menjadi kurang terasah.
Padahal, keahlian tersebut sangat krusial untuk menghadapi tantangan kehidupan saat dewasa.
2. Kesulitan mengelola emosi
Ilustrasi. Dampak helicopter parenting salah satunya anak jadi kesulitan mengelola emosi. (Pexels/Ron Lach)
Ketika orang tua selalu melindungi anak dari situasi nan menantang, anak kehilangan kesempatan untuk belajar mengendalikan emosi dan menghadapi tekanan. Mereka menjadi lebih rentan merasa cemas, frustrasi, alias kewalahan saat menghadapi masalah nan tidak dapat diselesaikan oleh orang lain.
Kemampuan mengelola emosi sejatinya berkembang melalui pengalaman menghadapi kesulitan secara bertahap.
Salah satu akibat terbesar dari helicopter parenting adalah menurunnya rasa percaya diri anak. Ketika orang tua terus mengambil alih beragam urusan, anak dapat menganggap dirinya tidak cukup bisa untuk menyelesaikan sesuatu secara mandiri.
Pesan nan secara tidak langsung diterima anak adalah bahwa keberhasilannya berjuntai pada support orang tua, bukan pada kemampuannya sendiri.
4. Kemampuan menghadapi kegagalan menjadi rendah
Kegagalan merupakan bagian alami dari proses belajar. Namun, anak nan selalu dilindungi dari kesalahan alias akibat negatif bakal kesulitan memahami langkah bangkit dari kegagalan.
Saat memasuki masa remaja alias dewasa, mereka condong mempunyai toleransi frustrasi nan rendah dan lebih mudah menyerah ketika menghadapi hambatan.
5. Meningkatkan akibat gangguan kesehatan mental
Berbagai studi menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh nan terlalu mengontrol dengan meningkatnya akibat kekhawatiran dan depresi pada anak maupun remaja.
Anak nan terbiasa mendapatkan pengarahan terus-menerus sering kali merasa tidak percaya dengan keahlian dirinya sendiri. Ketika kudu membikin keputusan secara mandiri, mereka lebih mudah merasa takut dan tertekan.
6. Anak merasa harus diperlakukan istimewa
Keterlibatan orang tua nan terus-menerus dalam memenuhi kebutuhan anak dapat membikin mereka terbiasa mendapatkan support tanpa kudu berupaya sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menumbuhkan entitlement alias merasa layak mendapatkan kewenangan spesial tanpa berusaha.
Anak mungkin menganggap bahwa orang lain bakal selalu datang untuk menyelesaikan masalahnya, sehingga rasa tanggung jawab pribadi menjadi berkurang.
7. Berpengaruh pada hubungan sosial
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa anak nan tumbuh dengan kontrol berlebihan dapat menunjukkan perilaku nan lebih garang alias susah bekerja sama dengan orang lain. Hal ini sering terjadi lantaran mereka mempunyai kesempatan nan terbatas untuk mengembangkan kemandirian dan keahlian bersosialisasi secara alami.
Dengan memahami apa itu helicopter parenting dan dampaknya pada anak dapat membantu orang tua mengevaluasi pola pengasuhan nan selama ini diterapkan. Memberikan support memang penting, tetapi anak juga memerlukan ruang untuk belajar, mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, dan mengembangkan kepercayaan diri.
(gas/els)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·