Skandal prostitusi elite menjerat banyak pesepakbola Serie A di Italia. Banyak pemain dari klub Liga Italia tersangkut jaringan perzinahan kelas atas.
Kejaksaan Milan mengungkap praktik ini dilakukan sebuah jaringan berkedok agensi promosi acara. Perusahaan nan berbasis di Cinisello Belsamo menjalankan prostitusi dengan sasaran pengguna kaya.
Dalam menjalankan aksinya, jaringan ini menawarkan 'paket' intermezo malam di hotel mewah dengan servis jasa seksual dari pekerja seks profesional. Laki-laki hidung belang kudu merogoh kocek ribuan euro per malam untuk menikmati intermezo 'panas' ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pengguna tetap termasuk para pengusaha dan sejumlah besar pesepakbola Serie A. Menurut penyelidik, beberapa pemain menggunakan jasa seksual terutama setelah pertandingan.
Menukil Sassuolo News, setidaknya 70 pemain Serie A menggunakan jasa nan diselenggarakan agensi tersebut. Di antara mereka nan terlibat adalah pemain dari klub-klub seperti Inter Milan, AC Milan, Juventus, Sassuolo, Verona, serta beberapa pemain dari tim nan melakoni laga tandang ke Milan.
Kenapa Pria Rela Bayar untuk Seks?
Mengutip laman Psychology Today, sebuah penelitian menganalisis 54 studi tentang laki-laki nan mengunjungi prostitusi. Studi-studi tersebut dilakukan di lebih dari selusin negara seperi AS, Inggris, Kanada, hingga Australia di tempat laki-laki kaya melakukan 'wisata' seks.
Dalam sebagian besar penelitian, kebanyakan laki-laki tidak memandang ada nan salah dengan bayar wanita untuk berasosiasi seks. Berikut argumen nan keluar dari mulut mereka.
- Seks adalah kebutuhan, laki-laki butuh lebih banyak dari wanita
- Pria bayar untuk seks merupakan budaya selama ribuan tahun
- Pasangan mereka tidak bisa memuaskan secara seksual
- Mendapatkan pengalaman seksual lain
- Membayar untuk hubungan seks dapat mempererat ikatan antar pria, seperti dalam konteks bisnis
(dpy/kna)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·