Jakarta, CNN Indonesia --
FIFA membantah bahwa wasit asal Australia, Shaun Evans, telah melakukan tindakan rasialisme di Piala Dunia 2026.
"Komite Disiplin independen FIFA mengonfirmasi bahwa, setelah menyelidiki masalah nan melibatkan asisten wasit video pendukung Shaun Evans," kata FIFA dilansir dari USA Today.
"Mereka tidak menemukan bukti pelanggaran Kode Disiplin FIFA. Komite Disiplin juga telah memperhatikan pernyataan Evans," tulis Komite Disiplin FIFA dalam siaran resminya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya sebuah potongan video viral di media sosial. Video itu memperlihatkan Evans melakukan tindakan rasialis sebelum pertandingan Jerman versus Curacao, Minggu (14/6).
Tindakan rasialis nan dimaksud adalah simbol 'OK' berupa jempol menyatu dengan telunjuk dalam corak bulat dan tiga jadi lainnya tegak. Simbol ini dikaitkan dengan supremasi kulit putih.
Dilansir dari USA Today, wasit nan sempat memimpin pertandingan Liga 1 Indonesia ini melakukan aktivitas OK tanpa sengaja. Itu merupakan spontanitas bawaan.
"Saya mau menjelaskan bahwa saya tidak sengaja membikin aktivitas tangan alias simbol untuk menyampaikan pesan, afiliasi, permainan, alias kepercayaan apa pun," kata Evans.
"Satu-satunya penjelasan nan bisa saya berikan adalah bahwa aktivitas itu merupakan kedutan bawah sadar nan tidak disengaja dan saya tidak menyadari telah melakukannya pada saat itu."
Isyarat OK masuk kategori tindakan rasialisme sejak 2019. Itu setelah Anti-Defamation League (ADL) memasukkan dalam kategori rasialisme, namun ini bukan keputusan final.
Makna tradisional dari simbol itu tidak serta merta dianggap sebagai tindakan rasialisme jika dilakukan negara lain. Pasalnya, maka dunia aktivitas tangan itu adalah OK dan bukan white supremacy.
"Kehati-hatian unik kudu dilakukan agar tidak terburu-buru mengambil konklusi tentang niat di kembali seseorang nan telah menggunakan isyarat tersebut," kata ADL.
(abs/jal)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·