Ekspor Produk Perikanan Ri Capai Rp 107 T Sepanjang 2025

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilai ekspor produk perikanan Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai US$ 6,27 miliar alias sekitar Rp 107,11 triliun (kurs Rp 17.084/dolar AS). Capaian ini merupakan nan tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan capaian ekspor ini didorong oleh kenaikan produksi kelautan dan perikanan Indonesia nan secara konsisten rata-rata tumbuh sekitar 3,8% sepanjang tahun kemarin.

"Produksi mencapai 26,25 juta ton menjadi capaian tertinggi nan terdiri atas 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia meningkat juga mencapai US$ 6,27 miliar di tahun 2025, juga menjadi capaian tertinggi dalam 5 tahun terakhir," kata Trenggono dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, Trenggono mengatakan untuk realisasi ekspor produk perikanan pada dua bulan pertama 2026 baru mencapai US$ 960 juta alias Rp 16,4 triliun. Menurutnya jumlah ini mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode nan sama tahun sebelumnya, meski dia tidak merinci lebih jauh.

"Hingga Februari 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$ 960 juta nan secara year-on-year tetap menunjukkan perlambatan dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya," paparnya.

Selain perlambatan realisasi impor, sektor kelautan dan perikanan Indonesia sekarang ini juga sedang menghadapi dua tantangan sekaligus, ialah akibat bentrok di Timur Tengah dan siklus El Nino.

Trenggono menjelaskan bentrok di Timur Tengah berpotensi menurunkan tingkat produktivitas para nelayan dalam negeri sebagai implikasi dari kenaikan nilai BBM akibat krisis daya global. Sebab sampai saat ini 100% alias seluruh nelayan di Indonesia tetap sangat berjuntai pada BBM untuk bisa melaut.

"Lalu kemudian harga-harga akibat dari pengedaran juga tetap terpengaruh sehingga rantai pasok dari hasil perikanan juga berpotensi mengakibatkan penurunan volume ekspor, hingga penurunan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global," sambungnya.

Sementara untuk akibat dari tantangan el nino, menurutnya kejadian ini berpotensi memicu penguapan alias evaporasi air laut berlebihan. Di mana kondisi ini berpotensi mengakibatkan lonjakan salinitas alias peningkatan kadar garam (keasinan) air laut nan secara langsung merusak ekosistem, pesisir, dan laut.

"Tingginya tingkat evaporasi dapat menyebabkan lonjakan salinitas, nan berimplikasi pada meningkatnya akibat pandemi penyakit pada komoditas budidaya, serta berpotensi mempercepat degradasi ekosistem karbon biru nan pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan," terang Trenggono.

Meski begitu, di tengah dinamika dunia imbas bentrok di Timur Tengah dan akibat ngari dari el nino, KKP memproyeksikan tingkat produksi ikan dan hasil laut nasional untuk periode April hingga Desember 2026 dapat mencapai 10,56 juta ton.

"Angka ini terdiri dari kontribusi produksi ikan tangkap sebesar 5,42 juta ton, serta produksi ikan budidaya sebesar 5,15 juta ton. KKP terus memantau secara ketat komoditas utama perikanan di delapan kota besar nan menjadi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan, kami dapat melaporkan bahwa status kesiapan ikan berada pada kategori kondusif hingga Juni 2026," pungkasnya.

(igo/fdl)

Sumber finance