Oleh : Dr. Miar, SE., M.Si
KEBIJAKAN efisiensi anggaran nan diterapkan pemerintah menjadi salah satu rumor ekonomi nan banyak diperbincangkan.
Di satu sisi, kebijakan ini diperlukan untuk menjaga kesehatan fiskal, meningkatkan kualitas shopping publik, dan memastikan setiap rupiah anggaran memberikan faedah nan optimal.
Namun di sisi lain, banyak pemerintah wilayah cemas bahwa penghematan anggaran bakal memperlambat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Secara prinsip, efisiensi anggaran bukanlah kebijakan nan keliru. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi dunia dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan program prioritas nasional, pemerintah dituntut mengelola anggaran secara lebih cermat.
Efisiensi diarahkan pada pengurangan shopping nan kurang produktif, seperti aktivitas seremonial, perjalanan dinas, dan beragam pengeluaran administratif nan tidak berakibat langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Persoalannya, kebijakan efisiensi juga berakibat pada berkurangnya ruang fiskal daerah.
Bagi banyak wilayah nan tetap berjuntai pada transfer pemerintah pusat, pengurangan biaya transfer berpotensi memengaruhi pembangunan infrastruktur, kualitas pelayanan publik, dan beragam program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketergantungan nan tinggi terhadap transfer pusat sesungguhnya menjadi persoalan mendasar dalam penyelenggaraan desentralisasi fiskal.
Banyak wilayah belum mempunyai kapabilitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) nan memadai sehingga rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal nasional.
Akibatnya, setiap pengetatan anggaran sering kali diikuti kekhawatiran bakal melambatnya aktivitas pembangunan daerah.
Oleh : Dr. Miar, SE., M.Si
KEBIJAKAN efisiensi anggaran nan diterapkan pemerintah menjadi salah satu rumor ekonomi nan banyak diperbincangkan.
Di satu sisi, kebijakan ini diperlukan untuk menjaga kesehatan fiskal, meningkatkan kualitas shopping publik, dan memastikan setiap rupiah anggaran memberikan faedah nan optimal.
Namun di sisi lain, banyak pemerintah wilayah cemas bahwa penghematan anggaran bakal memperlambat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Secara prinsip, efisiensi anggaran bukanlah kebijakan nan keliru. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi dunia dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan program prioritas nasional, pemerintah dituntut mengelola anggaran secara lebih cermat.
Efisiensi diarahkan pada pengurangan shopping nan kurang produktif, seperti aktivitas seremonial, perjalanan dinas, dan beragam pengeluaran administratif nan tidak berakibat langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Persoalannya, kebijakan efisiensi juga berakibat pada berkurangnya ruang fiskal daerah.
Bagi banyak wilayah nan tetap berjuntai pada transfer pemerintah pusat, pengurangan biaya transfer berpotensi memengaruhi pembangunan infrastruktur, kualitas pelayanan publik, dan beragam program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketergantungan nan tinggi terhadap transfer pusat sesungguhnya menjadi persoalan mendasar dalam penyelenggaraan desentralisasi fiskal.
Banyak wilayah belum mempunyai kapabilitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) nan memadai sehingga rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal nasional.
Akibatnya, setiap pengetatan anggaran sering kali diikuti kekhawatiran bakal melambatnya aktivitas pembangunan daerah.
1 jam yang lalu


English (US) ·
Indonesian (ID) ·