Jakarta, CNN Indonesia --
Laga akbar langsung tersaji di awal Piala Dunia 2026. Kekuatan besar dari Benua Amerika, Brasil bakal berjumpa Maroko, kesebelasan pilih tanding dari Afrika Utara.
Sekitar 82 ribu pasang mata bakal jadi saksi langsung duel di Stadion New York New Jersey, Minggu (14/6) pukul 05.00 WIB tersebut. Pekik sorak dan gemuruh teriak diperkirakan jadi latar bunyi sepanjang laga.
Brasil dan Maroko sama-sama punya pedoman suporter masif. Tim Samba, sebagai satu-satunya kubu langganan peserta Piala Dunia, sudah pasti setiap gerak-geriknya jadi perhatian penonton di arena dan di layar kaca.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi Singa Atlas, julukan timnas Maroko, dengan kualitas menanjak sepanjang dasawarsa 2020-an, punya fans gila bola dan siap datang kemanapun tim kesayangan berada. Bukan tak mungkin, suporter Brasil dan Maroko di gelanggang bakal sama banyaknya.
Sebab duel ini bak laga final di Grup C. Kedua kubu, Brasil dan Maroko, merupakan tim favorit untuk melangkah ke fase berikutnya alih-alih Haiti dan Skotlandia.
Tapi siapa tahu soal takdir. Sejarah mencatat, tak sedikit tim bercap elite justru terjungkal di babak penyisihan. Sayangnya, skenario ini sudah lama tak dialami Brasil sepanjang penyelenggaraan.
Terakhir kali Brasil kandas melangkah lebih dari fase grup adalah di Piala Dunia 1966. Setelah itu, mereka selalu menapak babak berikutnya.
Di satu sisi, Brasil pernah membikin publik terkejut saat kalah 0-1 dari Kamerun di laga pemungkas Grup G Piala Dunia 2022. Ini jadi isyarat skuad Canarinho juga bisa ditaklukkan termasuk oleh Maroko.
Menghadapi tim besutan Carlo Ancelotti, kubu ketua Mohamed Ouahbi perlu ekstra percaya diri. Brasil memang duduk di ranking keenam, tapi Maroko ada di ranking ketujuh. Dari sini mestinya The Atlas Lions tak perlu rendah diri.
Maroko punya bintang berumur usia emas. Sang kapten, Achraf Hakimi sekarang 26 tahun dan Brahim Diaz 25 tahun. Belum lagi ditambah rising star seperti Nel Al Aynaoui (AS Roma) dan Amir Richardson (FC Copenhagen) dengan usia di bawah 24 tahun.
Kombinasi dengan pemain kaya asam-garam seperti Sofyan Amrabat, Yassine Bounou, dan Ayoub El Kaabi diharapkan dapat mempersulit efektivitas pola Christmas Tree racikan Ancelotti.
Dengan situasi ini, mestinya Brasil perlu lebih waspada. Meski secara head to head lebih unggul, bukan tak mungkin tim Samba justru terjerembap ke lubang nestapa.
Brasil dan Maroko sudah berjumpa tiga kali. Dari rekam jejak itu, tim Samba lebih unggul dengan dua kemenangan. Sedangkan wakil Afrika Utara satu kali mendulang hasil maksimal.
Kemenangan Maroko diperoleh dalam sebuah laga persahabatan pada 25 Maret 2023. Itu bisa jadi gambaran kekuatan Achraf Hakimi dan kawan-kawan menghadapi tim sekuat Brasil.
Baca lanjutan kajian ini di laman selanjutnya>>>
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·