Di rumah produksi Mutiara Songket, para perajin tetap setia menenun kain secara manual menggunakan perangkat tradisional. Setiap helai kain songket dikerjakan dengan teliti dan memerlukan waktu nan tidak singkat. Dalam satu bulan, rumah produksi tersebut bisa menghasilkan sekitar 10 helai kain dengan beragam motif khas, seperti Pintu Aceh, Bunga Lawang, dan Bunga Jeumpa. ANTARA FOTO/Akramul Muslim

Keunikan motif serta kualitas pengerjaan menjadi daya tarik utama songket Aceh di pasar. Produk ini tidak hanya dipasarkan ke beragam wilayah di dalam negeri, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi, hingga Jakarta, tetapi juga sukses menembus pasar internasional. Setiap helai kain songket dikerjakan dengan teliti dan memerlukan waktu nan tidak singkat. Dalam satu bulan, rumah produksi tersebut bisa menghasilkan sekitar 10 helai kain dengan beragam motif khas, seperti Pintu Aceh, Bunga Lawang, dan Bunga Jeumpa. ANTARA FOTO/Akramul Muslim

Songket unik Aceh apalagi telah dipamerkan dalam arena fesyen di Prancis, menunjukkan bahwa kain tradisional Indonesia mempunyai nilai estetika dan daya saing di kancah global. Harga jual kain songket tersebut berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp3 juta per helai, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan kualitas bahan nan digunakan. Meski diproduksi secara terbatas, permintaan terhadap kain ini tetap stabil. ANTARA FOTO/Akramul Muslim

Keberhasilan songket Aceh menembus pasar internasional menjadi bukti bahwa produk kerajinan tradisional tetap mempunyai kesempatan besar di era modern. Para perajin pun berambisi support terus diberikan agar warisan budaya ini tetap lestari sekaligus bisa bersaing di pasar global. ANTARA FOTO/Akramul Muslim
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·