Bukan Makan Seblak, Dokter Sebut Justru Kebiasaan Ini Yang Bisa Picu Kista Ovarium

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Kista ovarium sering dianggap sebagai masalah kesehatan nan 'datang tiba-tiba'. Padahal, dalam banyak kasus, ada kebiasaan sehari-hari nan diam-diam ikut berkontribusi terhadap kemunculannya.

Kondisi ini memang kerap tidak bergejala di awal, tetapi jika dibiarkan bisa menimbulkan nyeri hingga gangguan siklus haid.

Apa Itu Kista Ovarium?

Dokter ahli Obstetri & Ginekologi, dr Med. Firman Santoso, SpOG dari Brawijaya Hospital menjelaskan secara garis besar wanita mempunyai dua jenis kista ovarium, ialah nan fungsional dan disfungsional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi setiap wanita, dalam fase reproduksi alias fase subur sebelum mereka menopause, mereka pasti bakal mempunyai kista fungsional alias hormonal. Setiap bulan ketika mereka mengalamu siklus menstruasi, itu kan selalu dihasilkan sel telur nan matang ya," kata dr Firman saat berbincang dengan detikcom di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

"Nah itu kita sebutnya kita nan fungsional, nan come and gone terus berjalan sepanjang umur hidupnya sampai pasien ini menopause. Baru kelak kista fungsional tidak bakal ada lagi," sambungnya.

Di sisi lain, ada jenis kista disfungsional alias nan tidak normal. Menurut dr Firman, kondisi inilah nan mengganggu kualitas hidup pasien.

Berbekal 14 tahun pengalaman internasional dan lebih dari 2.000 tindakan bedah, dr Firman mengatakan kista tidak normal ini banyak sekali jenisnya. Namun, nan paling sering ditemukan adalah jenis endometriosis.

"Kemudian ada juga kista jenis dermoid, nan merupakan kista bawaan. Jadi isinya itu rambut, gigi, tulang. Jadi jika menurut masyarakat kita kayak disantet, padahal bukan," katanya.

"Kemudian ada jenis kista-kista nan lain, seperti jenis mucinous cystadenoma, serous cystadenoma. Kemudian kista jenis lain nan bercampur dengan komponen tumor jinak, misalnya fibroma itu isinya bukan lagi cairan tapi merupakan tumor padat," lanjutnya.

Kebiasaan Pemicu Kista Ovarium

dr Firman mengatakan para wanita usia remaja sampai dewasa, bisa dikatakan umur 20-an tahun sampai 50-an, lebih berisiko mengalami kista disfungsional.

"Yang paling sering kami temukan itu style hidup sih. Artinya jika pola hidupnya tidak sehat, mereka terlalu gemuk, tidak pernah berolahraga, pola makannya terlalu banyak high sugar, terlalu tinggi karbo, lack of protein," kata dr Firman.

"Nah itu bisa menyebabkan mereka condong menderita kista nan jenis endometriosis alias mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, dan lain-lain," sambungnya.

dr Firman menegaskan bahwa kista nan terjadi pada mereka nan berusi lanjut alias 60 tahuan ke atas, kudu diwaspadai adanya kanker ovarium.

Penanganan Kista

Beruntung, saat ini pengobatan mengenai kista sudah cukup canggih. Menurut dr Firman, banyak kasus bisa ditangani dengan metode laparoskopi.

Ini adalah prosedur operasi minimal invasif (sayatan kecil) untuk mendiagnosis dan mengangkat kista ovarium alias kista lainnya dengan cepat, menggunakan kamera unik (laparoskop) melalui 1-3 sayatan mini di perut.

"Bahkan jika misalnya ada kanker ovarium, jika stadiumnya sangat awal, kami betul-betul bisa tangani dengan baik. Bahkan metode operasinya seperti nan dilihat tadi, dengan laparoskopi," katanya.

"Tidak buka perut. Jadi bayangin, Anda hanya bikin 3-4 lubang kecil, masing-masing 5 mm, separuh cm bayangkan. Jadi operasi, 1-2 hari pasien sudah boleh pulang," tutupnya.

(dpy/up)

Sumber detik-health