Bos Buruh Sebut Ada Sinyal Phk Besar-besaran 3 Bulan Lagi

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Jakarta -

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Partai Buruh Said Iqbal menyampaikan bakal ada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.

Menurut Said, angin besar PHK ini dipicu oleh dua aspek utama. Pertama, eskalasi perang di Timur Tengah. Kedua, kebijakan impor mobil pickup dalam program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih nan dinilai mencekik industri lokal.

"Di tengah ancaman perang ini, ancaman PHK bakal terjadi besar-besaran dalam 3 bulan ke depan. Kami mendapatkan info tersebut," ujar Said dalam konvensi pers secara daring, Senin (6/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga Energi Naik

Said mengatakan, perang antara Iran dengan sekutu Israel dan Amerika Serikat (AS) membikin nilai daya dunia melonjak hingga berakibat langsung pada biaya produksi. Meski pemerintah tidak meningkatkan nilai bahan bakar minyak (BBM) subsidi maupun nonsubsidi, nilai BBM industri mengikuti nilai pasar dunia sekarang terus melambung tinggi.

Ia menyebut para pemimpin perusahaan telah memberikan sinyal PHK kepada serikat pekerja di tingkat pabrik. Apabila biaya daya tak terkendali, pengurangan tenaga kerja bisa menjadi pilihan nan diambil pengusaha.

"Oleh lantaran itu, panjangnya perang ini bakal memberikan tekanan pada production cost alias biaya produksi di bahan bakar untuk menggerakkan mesin-mesin, turbin-turbin, listrik dan biaya-biaya daya lainnya bagi pengusaha. nan berujung pada pembengkakan biaya produksi nan tidak bisa meningkatkan nilai penjualan daripada produk nan mereka produksi," terang Said.

Impor Mobil Pickup

Tak hanya aspek eksternal, Said juga menyoroti pengadaan impor 160.000 mobil pickup dalam program Kopdeskel Merah Putih. Menurut Said, pengadaan importasi tersebut dapat menyerap 20.000-50.000 tenaga kerja jika memaksimalkan produksi dalam negeri.

"Harusnya bisa menyerap 20.000 hingga 50.000 tenaga kerja. Peluang itu hilang, malah membesarkan tenaga kerja India, walaupun harganya mungkin lebih rendah," kata Said.

Said menjelaskan akibat mengerikan jika kebijakan impor terus berlanjut. Menurut Said, jika pesanan pabrik berkurang, pekerja perjanjian menjadi pertama nan bakal diputus masa kerjanya.

"Kalau order berkurang, otomatis tenaga kerja kontraknya di-PHK. Tidak diperpanjang kontraknya. Kalau ada mobil impor dari India tadi dikerjakan di Indonesia, bakal memperpanjang kontrak, juga menambah tenaga kerja nan baru," tambahnya.

(rea/ara)

Sumber finance