Benarkah Kopi Bisa Picu Tekanan Darah Tinggi? Begini Faktanya Menurut Studi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Kopi sering dianggap sebagai penyebab tekanan darah tinggi. Tetapi, rupanya penelitian menunjukkan kebenaran nan berbeda. Lalu, gimana kopi mempengaruhi tekanan darah?

Kafein nan ada di dalam kopi adalah stimulan otot nan meningkatkan debar jantung pada beberapa orang. Ini berpotensi menyebabkan debar jantung tidak teratur nan dikenal sebagai aritmia.

Dikutip SciTech Daily, kandungan kafein juga merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan adrenalin. Ini membikin jantung berdebar lebih sigap dan pembuluh dara nan meningkatkan tekanan darah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kadar kafein dalam darah mencapai puncaknya antara 30 menit dan 2 jam setelah minum secangkir kopi. Waktu paruh kafein adalah 3-6 jam artinya kadar dalam darah bakal berkurang sekitar setengahnya selama waktu ini.

Rentang ini disebabkan oleh usia, genetik, dan kebiasaan minum kopi. Damapak kafein pada tekanan darah dari kopi bervariasi.

Tinjauan penelitian melaporkan peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 3-15 dan peningkatan tekanan darah diastolik sebesar 4-13 setelah dikonsumsi.

Efek kafein juga berjuntai pada tekanna darah normal seseorang. Peningkatan tekanan darah mungkin lebih berisiko jika mempunyai hipertensi dan penyakit jantung alias hati nan sudah ada.

Kandungan Lain di dalam Kopi

Kopi mengandung ratusan fitokimia alias senyawa nan berkontribusi pada rasa, aroma, alias memengaruhi kesehatan dan penyakit. Fitokimia nan secara langsung memengaruhi tekanan darah, termasuk melanoidin, nan mengatur volume cairan tubuh dan aktivitas enzim nan membantu mengontrol tekanan darah.

Asam kuinik adalah fitokimia lain nan terbukti menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, dengan memperbaiki lapisan pembuluh darah. Sehingga, memungkinkan pembuluh darah untuk mengakomodasi peningkatan tekanan darah dengan lebih baik.

Bisakah Kopi Menyebabkan Hipertensi?

Dalam tinjauan 13 studi nan melibatkan 315.000 orang, para peneliti memeriksa hubungan antara asupan kopi dan akibat hipertensi.

Selama periode tindak lanjut studi, 64.650 orang mengembangkan hipertensi. Para peneliti menyimpulkan bahwa minum kopi tidak mengenai dengan peningkatan akibat mengembangkan kondisi tersebut.

Bahkan ketika mereka memeriksa info berasas jenis kelamin, jumlah kopi, kopi tanpa kafein versus kopi berkafein, kebiasaan merokok, alias tahun pengamatan, kopi tetap tidak dikaitkan dengan peningkatan akibat terkena hipertensi.

Satu-satunya pengecualian nan menunjukkan akibat lebih rendah adalah lima studi dari Amerika Serikat dan tujuh studi berbobot rendah. Berarti hasil tersebut kudu diperjelas dengan hati-hati.

Sebuah studi terpisah dari Jepang mengawasi lebih dari 18.000 orang dewasa berumur 40-79 tahun selama 18,9 tahun. Ini termasuk sekitar 1.800 orang nan mempunyai tekanan darah sangat tinggi (hipertensi tingkat 2-3), dengan tekanan darah sistolik 160 alias lebih alias tekanan darah diastolik 100 alias lebih.

Di sini, akibat kematian akibat penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung alias stroke, dua kali lipat lebih tinggi pada mereka nan minum dua cangkir kopi alias lebih per hari. Hal ini dibandingkan dengan mereka nan tidak minum kopi.

Selain itu, tidak ditemukan hubungan antara tekanan darah normal alias hipertensi ringan (tingkat 1) (tekanan darah sistolik 140-159 alias tekanan darah diastolik 90-99) dengan kematian akibat penyakit kardiovaskular.

(sao/kna)

Sumber detik-health