Batuk Parah Tak Sembuh, Ternyata Ada Larva Lalat 'bersarang' Di Hidung Wanita Ini

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Sebuah kasus medis langka menyoroti ancaman jangkitan parasit pada manusia. Seorang wanita berumur 58 tahun di Yunani dilaporkan mengalami kondisi tidak biasa.

Dalam kasus nan dipublikasikan di laman CDC Emerging Infectious Disease, wanita itu bersin hingga mengeluarkan 'cacing' dari hidungnya. Ternyata itu merupakan larva dari lalat parasit.

Kasus ini menjadi perhatian lantaran berangkaian dengan jangkitan nan secara biologis disebut 'tidak masuk akal', sekaligus menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis alias jangkitan nan bisa menular dari hewan ke manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya pasien nan bekerja di sebuah pulau Yunani mengalami nyeri di bagian tengah wajah nan semakin memburuk. Sekitar 2-3 minggu setelahnya, dia juga mengalami batuk parah.

Tak lama kemudian, 'cacing' keluar dari hidungnya saat bersin. Kondisi tersebut membuatnya segera mencari pertolongan medis.

Seorang ahli telinga, hidung, dan tenggorokan melakukan operasi pada wanita tersebut. Ini dilakukan untuk mengangkat makhluk tersebut dari sinus maksilaris alias rongga besar di sisi hidung.

Dari prosedur tersebut, ditemukan 10 larva dan satu pupa alias fase perkembangan serangga sebelum menjadi dewasa. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan dengan kajian visual dan DNA.

Hasilnya mengungkap bahwa 'cacing' tersebut adalah larva lalat bot domba (Oestrus ovis), parasit nan umumnya hidup di saluran hidung domba dan kambing. Infeksi ini dikenal sebagai miasis, sehingga pasien didiagnosis mengalami 'miasis hidung O ovis dengan pupasi'.

Faktor Pemicu Kondisi Tersebut

Sebagai informasi, wanita tersebut bekerja di area luar nan berdekatan dengan ladang tempat domba merumput. Hal ini diduga menjadi sumber paparan larva.

Biasanya, lalat O ovis jarang menginfeksi manusia. Jika terjadi, larva lebih sering ditemukan di mata, bukan di hidung.

"Lalat bot O ovis jarang menyerang manusia, paling sering meletakkan larva di kantung konjungtiva nan terletak di antara kelopak mata dan bola mata," catat penulis laporan tersebut.

Pasien menjalani operasi pengangkatan larva dan pupa, serta diberikan dekongestan hidung. Dengan penanganan tersebut, dia dilaporkan sembuh total.

Secara umum, larva lalat ini tidak bisa berkembang lama di tubuh manusia dan biasanya hanya mencapai tahap awal (L1). Tetapi dalam kasus ini, larva belakang hingga tahap lanjut (L3), apalagi satu di antaranya menjadi pupa.

Padahal, tahap pupasi di dalam tubuh mamalia disebut tidak mungkin secara biologis. Para peneliti menduga kondisi anatomi pasien, seperti septum hidung nan menyimpang serta jumlah larva nan banyak, membikin larva terperangkap di sinus dan terus berkembang.

Dari perspektif anatomi murni, para penulis berhipotesis bahwa jumlah larva nan tinggi dikombinasikan dengan penyimpangan septum hidung wanita tersebut mencegah larva tersebut keluar dari hidungnya.

Simak Video "Video Efek Penyalahgunaan 'Gas Tawa': Ketergantungan hingga Kematian"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Sumber detik-health