Jakarta -
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong industri cerutu Indonesia bisa menembus pasar bumi nan selama ini didominasi sejumlah negara, seperti Kuba, Dominika dan Nikaragua.
Menurutnya, di tengah nilai pasar cerutu bumi nan mencapai puluhan miliar dolar AS, Indonesia sesungguhnya mempunyai fondasi kuat melalui kualitas tembakau kelas dunia. Namun hingga kini, posisi Indonesia tetap tertinggal dalam perihal branding, distribusi, dan penguasaan pasar premium dunia.
"Indonesia punya semua prasyarat untuk menjadi pemain utama cerutu dunia, mulai dari kualitas tembakau hingga tenaga kerja terampil. Tetapi kita tetap tertinggal dalam membangun brand dan positioning di tingkat pasar dunia," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu dia katakan saat menghadiri Halal Bihalal Omah Cerutu Nusantara di UNCLE Z Kopi Tiam Senopati Jakarta, Minggu (12/4) malam.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini memaparkan, secara dunia persaingan industri cerutu tetap dikuasai negara-negara dengan reputasi kuat. Data menunjukkan permintaan cerutu bumi terus meningkat dengan nilai mencapai sekitar 58 miliar dolar AS pada 2025, sementara Indonesia tetap menghadapi perubahan ekspor dan apalagi mengalami penurunan pada periode tertentu.
Di sisi lain, negara pesaing seperti Belgia, Jerman, dan Spanyol terus memperkuat posisi mereka di pasar global. Kondisi ini menggambarkan bahwa persaingan cerutu bumi bukan hanya soal kualitas produk, melainkan juga strategi pasar dan kekuatan merek.
"Meskipun ekspor tembakau Indonesia terus tumbuh dengan rata-rata kenaikan sekitar 4,8 persen per tahun, posisi Indonesia dalam pasar bumi tetap tertinggal. Indonesia baru berada di kisaran ranking menengah sebagai eksportir tembakau dunia, sementara negara lain telah melompat jauh dengan mengembangkan industri hilir berbasis brand premium," kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, industri cerutu nasional sebenarnya bukan pemain baru. Kabupaten Jember, misalnya, telah dikenal sejak era kolonial sebagai pusat tembakau cerutu berbobot tinggi dan hingga sekarang tetap menjadi tulang punggung produksi nasional.
Bamsoet menjelaskan produk cerutu dari wilayah ini telah menembus pasar Eropa, Asia, hingga Amerika, sekaligus menjadi bagian dari identitas ekonomi dan budaya daerah.
Adapun info menunjukkan, ekspor tembakau Jember pada 2023 mencapai lebih dari 3 juta kilogram dengan nilai devisa sekitar USD 31,9 juta. Di sisi lain, sejumlah produsen cerutu mulai menembus pasar dunia dengan merek sendiri, seperti ekspor ke Malaysia dan Thailand nan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
"Ini bukti bahwa cerutu Indonesia sudah mulai diterima pasar internasional. Tinggal gimana kita meningkatkan skala, konsistensi kualitas, dan memperkuat narasi sebagai produk premium," urai Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini menambahkan, di dalam negeri sendiri, sejumlah merek cerutu telah berkembang. Mulai dari BIN Cigar di Jember nan garang menembus pasar ekspor, Taru Martani di Yogyakarta nan membawa warisan sejarah panjang, hingga beragam produsen lain termasuk Djarum Cigarillos, Bamsoet Cigar dan pelaku UMKM nan terus bertumbuh. Bahkan, dalam ekosistem nasional terdapat ratusan jenis merek cerutu nan diproduksi, mencerminkan potensi besar industri ini jika dikelola secara terintegrasi.
Lebih lanjut, Bamsoet mengatakan kekuatan utama Indonesia sendiri terletak pada tembakau lokal seperti Besuki Na-Oogst nan dikenal sebagai salah satu bahan wrapper terbaik dunia. Didukung kondisi tanah vulkanik dan suasana tropis, Indonesia mempunyai karakter rasa nan unik dan berpotensi menjadi diferensiasi di pasar dunia.
"Saat ini pasar cerutu dalam negeri tetap relatif kecil, hanya sekitar 20-30 persen dari total produksi alias sekitar 1-2 juta batang per tahun. Artinya masa depan industri cerutu Indonesia memang ada di pasar internasional. Karena itu strategi ekspor kudu menjadi prioritas utama, termasuk support diplomasi ekonomi dan promosi," pungkas Bamsoet.
Sebagai informasi, turut datang dalam aktivitas tersebut antara lain Menko bagian Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Anggota BPK RI Bobby Rizaldi, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo, Gubernur Sumatera Selatan, Gubernur Lampung, Gubernur Bangka Belitung, Gubernur Jambi, Bupati Blora Arief Rohman, Pendiri Omah Cerutu Nusantara (OCN) adalah Helmy Faishal Zaini, Andi Rahmat, Pemilik BIN Cigar Febrian Ananta Kahar, Presiden Bamsoet Cigar Perikhsa Charles Wicaksana, Pemilik JT Royale Jeremy Thomas, musisi Lilo KLA dan Katon Bagaskara.
(akn/ega)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·