Bahlil Buka-bukaan Penyebab Ri Ketergantungan Impor Lpg 7 Juta Ton/tahun

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan devisa nan keluar dari impor LPG mencapai Rp 137 triliun per tahun. Dari total itu sebanyak Rp 80-87 triliun berasal dari subsidi pemerintah.

Jumlah kebutuhan impor LPG mencapai 7 juta ton per tahun, lantaran kebutuhan dalam negeri 8,6 juta ton, sementara produksi 1,6 juta-1,7 juta ton per tahun.

"Kebutuhan kita LPG 8,6 juta ton per tahun. Produksi kita kapabilitas terpasang 1,9 juta (ton), tapi nan bisa produksi hanya 1,6-1,7 juta, maksimum. Jadi, kita impor 7 juta ton per tahun," kata Bahlil sambutannya di Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa, Sabtu (2/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

RI Ketergantungan Impor LPG

Bahlil mengungkapkan argumen Indonesia ketergantungan impor LPG padahal gas dalam negeri melimpah, apalagi bisa ekspor lantaran gas nan dihasilkan Indonesia tidak banyak menghasilkan kandungan C3 (propana) dan C4 (butana) nan merupakan bahan utama dari LPG. Gas nan dihasilkan di Indonesia C1 (Metana) dan C2 (Etana).

"Kenapa kita tidak membikin LPG dalam negeri padahal kita gas melimpa? Gas kita nggak pernah impor lagi loh. Gas itu sudah semuanya industri dalam negeri, apalagi kita ekspor 30% dari total Lifting gas kita. Cuman kenapa LPG kita impor? Karena LPG itu bahan bakunya C3, C4. Gas kita itu C1, C2. Sementara C3, C4 ini kecil," jelasnya.

Bahlil memandang potensi lain agar Indonesia melepas ketergantungan impor LPG ialah dengan Dimethyl Ether (DME), gas turunan nan dapat diproduksi dari beragam bahan baku, seperti batu bara, gas alam.

"Sekarang kita mulai buat bikin DME, kemarin sudah peletakan batu pertama, kita bikin di Muara Enim (Sumsel)," terangnya.

Selain DME, Bahlil menyebut ada sumber lain nan dapat menggantikan LPG ialah Compressed Natural Gas (CNG), nan sudah banyak digunakan restoran dan sejumlah dapur makan bergizi cuma-cuma (MBG) alias Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, dia menyebut corak 3 kg seperti LPG belum ada, oleh lantaran itu, pemerintah berencana memperluas penggunaan CNG.

"Untuk nan 3 kilogramnya ini baru mau dibuat dan ini kosnya lebih murah 30-40%. Ini juga tantangannya banyak. Saya bilang tidak ada urusan untuk efisiensi, kebaikan dan pelayanan rakyat apapun kita pertaruhkan untuk kita wujudkan agar kita mandiri," pungkasnya.

(ada/ara)

Sumber finance