Jakarta, CNN Indonesia --
Manchester City bak 'badai' nan datang menerjang dalam perburuan mahkota Liga Inggris musim ini. Kemenangan dramatis atas Arsenal 2-1 pada Minggu (19/4) membikin puncak klasemen milik The Gunners mulai bergetar.
Selisih tiga poin di antara keduanya bisa menguap kapan saja. Nyatanya, Man City tetap punya satu laga nan belum dimainkan, ialah laga pekan ke-33 nan bakal digelar melawan Burnley pada Kamis (23/4) awal hari WIB.
Kondisi itu menempatkan Man City dalam posisi nan sangat menguntungkan. Arsenal telah merampungkan 33 pertandingan dengan koleksi 70 poin di pucuk klasemen, sementara The Citizens baru melewati 32 laga dengan 67 nomor di posisi kedua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya, Man City tetap menyisakan enam pertandingan tersisa, satu lebih banyak daripada Arsenal nan tinggal mengemas lima laga. Keunggulan jumlah laga itulah nan menjadi senjata tersembunyi pasukan Pep Guardiola.
Laga kontra Burnley pada Kamis awal hari WIB bukan sekadar pertandingan biasa bagi Man City. Bentrokan The Citizens dengan The Clarets adalah momentum penentu. Jika menang dengan skor berapa pun, Man City bakal melengserkan Arsenal dari posisi puncak berkah kelebihan produktivitas gol.
Dengan demikian, kemenangan atas Burnley bukan hanya soal tiga angka. Itu merupakan tiket "gerbang pembuka" nan menegaskan status Manchester Biru siap sedia menjadi kampiun musim ini.
Namun jauh sebelum laga kontra Burnley, Man City sejatinya tak pernah berakhir menggelorakan konsistensi. Kekalahan terakhir The Sky Blues di Liga Inggris apalagi sudah terjadi cukup lama, ialah pada Januari lampau saat ditekuk Manchester United 0-2 dalam Derbi Manchester (17/1).
Sejak kekalahan memalukan dalam Derbi Manchester itu, Man City terus melenggang tanpa cela. Konsistensi itu pun bersambung hingga pertandingan ke-32 mereka, kala Erling Haaland dkk menundukkan Arsenal di Etihad Stadium.
Di kembali konsistensi itu, ada tangan dingin sang arsitek, Pep Guardiola nan memainkan peran signifikan. The Exceptional One, julukan Pep, terus merotasi skuadnya dengan cendekia.
Melimpahnya opsi di lini serang Man City menjadi kelebihan nan susah ditandingi. Kecepatan dan kelincahan winger Antoine Semenyo serta Jeremy Doku di sisi kanan dan kiri membikin musuh dibuat pusing tujuh keliling. Belum lagi produktivitas Rayan Cherki alias ketajaman Phil Foden nan beraksi di belakang Erling Haaland.
Posisi Haaland pun diplot Guardiola secara spesifik, ialah berada sangat tinggi untuk terus berduel dengan bek tengah lawan. Meski striker asal Norwegia itu sempat mengalami paceklik gol dalam beberapa laga sebelum akhirnya membobol gawang Arsenal, kehadirannya tetap memberi pengaruh nyata nan membuyarkan konsentrasi barisan pertahanan lawan.
Taktik ini terbukti menguntungkan bagi para gelandang serang City. Dengan Haaland menyita perhatian bek lawan, Cherki alias Foden leluasa beraksi mengobrak-abrik barisan pertahanan musuh.
Tak hanya soal lini serang, Guardiola juga mengatur peran bek sayap dengan detail. Nico O'Reilly nan mengisi posisi bek sayap kiri, diplot lebih masuk ke tengah sebagai inverted left-back saat City menguasai bola. Peran itu memadatkan lini tengah City dan menyulitkan musuh dalam membangun serangan.
Pembelian Marc Guehi dari Crystal Palace juga semakin memperkuat pondasi pertahanan Manchester Biru. Bek Inggris berumur 25 tahun itu tampil sebagai ball-playing defender andalan, menyokong lini belakang sekaligus memperlancar transisi dari memperkuat ke menyerang.
Kecerdikan Guehi dalam membaca ruang juga terbukti efektif di sisi ofensif. Golnya ke gawang Chelsea pada (12/4) lampau jadi bukti nyata dirinya dapat muncul dan menakut-nakuti secara tiba-tiba.
Bersambung ke laman berikut...
Add
as a preferred source on Google
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·