Secara global, 5G merupakan teknologi seluler dengan tingkat mengambil tercepat sejak era 2G. Laporan industri menunjukkan jumlah pengguna 5G bumi telah mencapai sekitar 2,9 miliar pada akhir tahun lampau dan diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031.
Namun di Indonesia, penetrasi 5G tetap berada di bawah 10 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi dan realisasi pemanfaatan teknologi tersebut di dalam negeri.
Padahal, penerapan 5G diperkirakan bisa memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Data industri menyebut teknologi ini berpotensi menambah sekitar 41 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga 2030, melalui beragam sektor seperti manufaktur pintar, kota cerdas, jasa kesehatan digital, pendidikan, hingga logistik dan energi.
Dalam Indotelko Forum, di Jakarta, Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menyebut bahwa 5G bukan sekadar peningkatan jaringan seluler, melainkan fondasi utama bagi perkembangan teknologi masa depan seperti kepintaran buatan (AI), komputasi awan (cloud), hingga otomatisasi industri.
Lebih jauh, 5G juga dinilai menjadi tulang punggung bagi pengembangan AI nan memerlukan jaringan dengan latensi rendah, kecepatan tinggi, dan stabilitas koneksi. Tanpa support 5G, pengembangan teknologi berbasis AI di Indonesia dikhawatirkan tidak dapat melangkah optimal.
Dengan potensi besar nan dimiliki, Indonesia berada di persimpangan penting. Percepatan mengambil 5G dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan sasaran Indonesia Emas 2045 tidak sekadar menjadi ambisi, melainkan dapat terwujud secara nyata.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·